Dukung NZE, Perbankan Kucurkan Kredit Hijau untuk Taksi Listrik

Pembiayaan Transportasi Listrik Dukung Target NZE (FOTO: NET)
Penulis: Talita Malinda
Selasa, 12 Mei 2026 | 15:53:51 WIB

JAKARTA - Mengutip data dari kemenkeu.go.id, Energy Transition Mechanism (ETM) merupakan tahapan strategis untuk mendorong pembangunan infrastruktur sekaligus mengakselerasi transisi energi menuju emisi nol bersih (Net Zero Emission/NZE) pada 2060, dengan mengedepankan prinsip keadilan dan keterjangkauan. 

Kehadiran ETM dinilai sangat vital bagi Indonesia sejalan dengan proyeksi penguatan ekonomi menuju status negara maju di tahun 2045.

 Tingginya kebutuhan energi nasional harus terpenuhi tanpa memberikan dampak negatif terhadap keberlanjutan lingkungan.

Sistem ETM dikategorikan ke dalam dua kelompok utama. Kelompok pertama adalah Fasilitas Pengurangan Emisi yang berfokus pada percepatan pensiun dini pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU).

 Kelompok kedua ialah Fasilitas Energi Bersih yang diarahkan pada investasi serta pembangunan sarana energi yang ramah lingkungan.

Upaya transisi menuju energi bersih ini diupayakan agar tidak memberikan beban pada APBN melalui skema pembiayaan campuran (blended finance).

 Dana tersebut dikumpulkan dari beragam sumber mulai dari sektor perbankan, lembaga pemerintah, investor ekuitas, hingga pihak filantropi yang pengelolaannya diberikan kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).

Untuk menjamin implementasi ETM berjalan secara komprehensif, Pemerintah telah membentuk Country Platform.

 Kerangka kerja ini berperan dalam menghimpun modal, baik komersial maupun non-komersial, secara berkelanjutan demi mendukung transisi energi di Indonesia.

Terkait aspek pendanaan tersebut, penyaluran kredit perbankan untuk kendaraan listrik, khususnya bagi transportasi massal, menjadi bagian krusial dari pembiayaan hijau (green financing). 

Peralihan operasional armada taksi listrik dari pemakaian bahan bakar fosil adalah realisasi nyata dari Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) yang digagas pemerintah untuk menggantikan kendaraan BBM.

 Langkah korporasi ini menjadi strategi penting dalam mereduksi emisi karbon demi mencapai target NZE di tahun 2060.

Pihak perbankan menggolongkan pinjaman tersebut sebagai kredit hijau (green loan) atas kontribusinya dalam menyokong mobilitas perkotaan yang rendah emisi.

 Sebagai tindakan nyata, BCA baru saja mengucurkan pinjaman investasi sebesar Rp600 miliar kepada perusahaan taksi listrik asal Vietnam, Green SM Indonesia. 

Dana dengan tenor lima tahun tersebut dialokasikan untuk memperluas armada di wilayah Jakarta, Surabaya, Bekasi, Makassar, serta Bali.

Pada kesempatan lain, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyampaikan bahwa pasar karbon nasional merupakan instrumen utama dalam pembiayaan strategis transisi energi yang berkelanjutan. 

Ia mendorong adanya penguatan kualitas kredit karbon serta peningkatan partisipasi sektor swasta dalam mendanai energi bersih. 

Eddy menggarisbawahi bahwa sinergi dengan pihak swasta sangat dibutuhkan untuk membangun energi terbarukan.

 Selain proyek skala besar, pembiayaan diharapkan dapat menyentuh inisiatif komunitas seperti pengolahan sampah yang menjadi bagian dari ekosistem energi nasional.

Reporter: Talita Malinda