Ketegangan AS-Iran Meningkat, Trump Tolak Proposal Damai Teheran
WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengemukakan bahwa kondisi gencatan senjata antara AS dan Iran saat ini tengah berada dalam situasi yang sangat rentan.
Hal tersebut terjadi menyusul kegagalan proses negosiasi terbaru antara kedua negara.
Mengutip laporan AFP, Trump beranggapan bahwa usulan balasan yang diajukan pihak Iran justru menutup peluang bagi terciptanya perdamaian.
“Saya bisa bilang, ini salah satu (kondisi) yang paling lemah saat ini," kata Trump pada Senin (11/5/2026) kepada wartawan di Gedung Putih.
“Saya akan mengatakan gencatan senjata ini benar-benar seperti sedang memakai alat bantu hidup.” ujar trump.
Trump juga menyatakan bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan kembali pengaktifan pengawalan militer Amerika Serikat untuk kapal-kapal pengangkut minyak serta kapal komersial yang melewati Selat Hormuz.
Operasi militer dengan sandi Operation Freedom tersebut sebelumnya sempat berjalan pada 6 Mei, namun terhenti kurang dari dua hari kemudian.
Penolakan Proposal Iran
Sebelumnya, Amerika Serikat telah menetapkan sejumlah syarat bagi Iran untuk meredakan ketegangan, terutama terkait penghentian ekspansi program nuklir di Teheran.
Namun, dokumen balasan yang dikirimkan pihak Iran pada Minggu (10/5/2026) langsung ditolak secara tegas oleh Trump.
“Kami akan mendapatkan kemenangan penuh,” ujar Trump.
“Mereka berpikir saya akan lelah menghadapi ini. Saya akan bosan, atau mendapat tekanan. Tapi tidak ada tekanan.”
Trump juga menilai adanya keterbelahan dalam kepemimpinan Iran antara faksi moderat dengan kelompok yang ia labeli sebagai “orang-orang gila”.
“Orang-orang gila itu ingin bertarung sampai akhir. Anda tahu, itu akan menjadi pertarungan yang sangat cepat,” katanya.
Pembelaan Pihak Iran
Melansir BBC, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memberikan pembelaan atas proposal yang dikirimkan Teheran ke Washington.
Ia mengklaim bahwa tawaran perdamaian dari pihaknya bersifat sangat bertanggung jawab dan murah hati.
Menurut laporan kantor berita Tasnim, sejumlah poin dalam proposal Iran mencakup penghentian pertempuran secara instan di semua lini, penghapusan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta jaminan keamanan dari serangan di masa depan.
Iran pun menuntut ganti rugi atas kerusakan akibat perang dan menegaskan kedaulatan mereka di wilayah Selat Hormuz.
Donald Trump memberikan respons keras terhadap tuntutan tersebut melalui platform Truth Social.
“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut ‘perwakilan’ Iran. Saya tidak suka itu—benar-benar tidak bisa diterima,” tulis Trump.
Saat berada di Gedung Oval, Trump bahkan secara terang-terangan menyebut tawaran dari Iran tersebut sebagai sebuah "sampah".
“Dokumen sampah yang mereka kirim kepada kami itu bahkan tidak saya selesaikan membacanya,” katanya.
Polemik Uranium dan Jalur Selat Hormuz
Trump turut menuduh Iran telah membatalkan komitmen untuk menyerahkan stok uranium yang diperkaya milik mereka kepada Amerika Serikat.
Ia menegaskan kembali posisinya bahwa Iran tidak akan pernah diperbolehkan memiliki senjata nuklir.
Di lain pihak, sumber yang mengetahui jalannya negosiasi menyebutkan bahwa sebenarnya tidak pernah ada usulan terkait pemindahan material nuklir dari teritori Iran.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendesak agar seluruh persediaan uranium Iran segera dipindahkan sebelum konflik benar-benar dinyatakan usai.
“Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan CBS.
Sampai saat ini, Iran masih melakukan penutupan pada jalur Selat Hormuz.
Blokade di jalur yang menopang sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia tersebut telah memicu kenaikan harga energi secara global.