Strategi PGEO Tekan Emisi Lewat Inovasi Operasi Panas Bumi Berkelanjutan

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:19:44 WIB
PGEO. ( Sumber : NET )

JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), sebagai perusahaan energi terbarukan berbasis panas bumi, terus memperkokoh kontribusinya dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) Indonesia dan Nationally Determined Contribution (NDC) melalui penyediaan energi rendah karbon.

 Meski inti bisnisnya sudah berada di jalur energi hijau, emiten berkode PGEO ini tetap konsisten menjalankan berbagai inisiatif efisiensi energi serta pengurangan emisi di seluruh lini operasional sebagai bagian dari praktik operasi berkelanjutan.

Direktur Operasi PGEO, Andi Joko Nugroho, menyampaikan bahwa penerapan praktik keberlanjutan secara konsisten merupakan kunci untuk memastikan pengembangan panas bumi yang andal, efisien, serta kompetitif.

"Seluruh implementasi keberlanjutan PGEO dijalankan secara transparan dengan mengacu pada standar pelaporan global," kata Andi, dikutip Kamis (14/5/2026).

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, PGEO berhasil membukukan penghematan energi sebesar 90.502,28 MWh pada tahun lalu. 

Angka ini melonjak tajam dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang sebesar 40.058,77 MWh.

Peningkatan efisiensi ini didukung oleh optimalisasi operasional di berbagai wilayah kerja, seperti langkah debottlenecking di Area Ulubelu, optimalisasi vacuum pump, hingga modifikasi katup kontrol di Lumut Balai untuk menekan uap yang terbuang.

Selain itu, perusahaan terus melakukan inovasi, termasuk pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk kebutuhan internal di fasilitas kantor dan operasional.

 Di sisi lain, PGEO mencatatkan penurunan rasio intensitas energi sebesar 10,10% menjadi 0,037 MWh/MWh pada 2025.

 Tingkat penggunaan energi terbarukan dalam operasional perusahaan pun tetap terjaga tinggi di angka 94,36%.

Dari aspek pengelolaan emisi, intensitas emisi PGEO tercatat sebesar 41,12 g CO2e/kWh, jauh di bawah ambang batas Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 g CO2e/kWh. 

Secara keseluruhan, kapasitas operasi panas bumi perusahaan telah berkontribusi pada penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e sepanjang tahun 2025.

Selain fokus pada energi, PGEO memperkuat manajemen limbah non-B3 melalui pendekatan 4R dan berhasil menurunkan konsumsi air sebesar 33,31% pada 2025.

 Perusahaan juga mulai merambah pengembangan ekosistem green hydrogen serta peluang green data center untuk solusi dekarbonisasi lintas sektor.

Kinerja ESG yang positif ini membawa PGEO meraih skor Sustainalytics sebesar 7,1, yang menempatkannya dalam jajaran Top 50 ESG Global. 

Andi menekankan bahwa pengembangan panas bumi tidak hanya soal penyediaan energi bersih, tetapi juga mengenai operasional yang bertanggung jawab dan memberikan manfaat luas bagi lingkungan serta masyarakat.

"Karena itu, penguatan praktik ESG dan implementasi operasi berkelanjutan akan terus menjadi prioritas perseroan ke depan,” kata Andi.

"Sebagai energi baru terbarukan, panas bumi merupakan energi baseload andal yang mampu menghasilkan listrik stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca maupun impor bahan bakar. Karakteristik ini menjadikan panas bumi berperan penting dalam mendukung transisi energi rendah emisi sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional," pungkasnya.

Saat ini, PGEO mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW. 

Jumlah tersebut menyumbang sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi di Indonesia, dengan potensi reduksi emisi mencapai 10 juta ton CO2 per tahun.

Terkini