Bauran EBT Jateng Lampaui Target, 2.331 Desa Mulai Gunakan Energi Bersih
JAKARTA - Capaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di Jawa Tengah pada 2025 sukses melewati target yang sudah dipatok dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendata realisasi bauran EBT telah menyentuh angka 22,33 persen, melampaui target sebesar 21,3 persen pada tahun ini. Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan tersebut ikut dipacu lewat pengembangan ribuan Desa Mandiri Energi (DME) di bermacam kawasan Jawa Tengah yang mulai memaksimalkan potensi energi lokal.
Staf Bidang EBTKE Dinas ESDM Jateng, Muhammad Galih Swastandhi memaparkan, saat ini ada 2.331 Desa Mandiri Energi yang aktif menggerakkan pemanfaatan EBT berbasis potensi desa mereka masing-masing.
“Di Jawa Tengah sebenarnya sudah ada sekitar 2.331 Desa Mandiri Energi yang mana artinya desa tersebut sudah mulai bergerak memanfaatkan EBT dengan potensi lokal,” jelas Galih di Semarang, Senin (18/5/2026).
“Kami menilai dari inisiatif dan dampaknya, semakin banyak warga yang merasakan dampak, level desanya akan semakin naik. Kita juga berikan apresiasi berupa penghargaan karena kemampuan fiskal daerah yang terbatas,” imbuhnya.
Menurut penjelasan Galih, pengembangan Desa Mandiri Energi dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu Desa Mandiri Inisiatif, Desa Mandiri Berkembang, dan Desa Mandiri Mapan. Evaluasi dilakukan bersandarkan pada efek pemanfaatan energi terbarukan bagi warga desa.
Pemprov Jateng pun konsisten memacu kesinambungan pengembangan energi bersih lewat program penghargaan Desa Mandiri Energi serta Jateng Energy Transition Award (JETA). Di samping itu, pemerintah desa didorong untuk mencantumkan alokasi anggaran desa demi menyokong pengembangan EBT secara swadaya.
Pada aspek lain, Pemprov Jateng saat ini mulai meninjau kembali kebijakan energi daerah demi menyesuaikan Kebijakan Energi Nasional (KEN) teranyar yang tercantum dalam PP Nomor 40 Tahun 2025. Peninjauan itu dilaksanakan dengan mencermati estimasi kebutuhan pasokan serta permintaan energi hingga tahun 2060, termasuk peluang penyelarasan target bauran energi daerah.
“Terkait target nasional yang kabarnya disesuaikan ke sekitar 17 atau 18 persen di PP yang baru, kami sementara belum bisa membeberkan angka target penurunan di daerah karena harus melihat dulu hasil pemodelan teman-teman ke depannya sampai 2060 seperti apa,” kata Galih.
Sementara itu, penerapan energi terbarukan pada sektor pembangkit listrik masih menuai perhatian dari kelompok pemerhati lingkungan. Salah satunya mengenai program co-firing biomassa pada beberapa PLTU di Jawa Tengah.
Juru Kampanye Bioenergi Trend Asia, Bayu Maulana Putra, menganggap pemanfaatan biomassa berwujud serbuk kayu berpeluang menaikkan kebutuhan bahan bakar lantaran nilai kalornya yang lebih rendah jika disandingkan dengan batu bara.
“Di Jawa Tengah ada sekitar dua PLTU yang sudah beroperasi, meskipun satu di antaranya seperti Tanjung Jati B (Jepara) masih tahap uji coba. Kalau nilai kalor lebih rendah, otomatis kebutuhan biomassa lebih besar. Ini yang kami khawatirkan justru meningkatkan emisi secara keseluruhan,” ujar Bayu dalam diskusi publik di Kota Lama Semarang, Sabtu (16/5/2026).