Tekan Impor, Kementerian ESDM Dorong CNG Masuk Sektor Rumah Tangga
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meyakini bahwa pendayagunaan Compressed Natural Gas (CNG) mampu menjadi solusi yang pas guna memenuhi kebutuhan energi sektor rumah tangga di masa mendatang.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, menegaskan bahwa volume pasokan gas bumi di dalam negeri melimpah ruah dan penggunaannya dipastikan aman lantaran ditopang oleh adopsi teknologi modern.
Langkah bermigrasi energi ini menjadi manuver krusial pemerintah untuk menekan pembengkakan alokasi subsidi akibat tingginya volume impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Menurut penjelasan Laode, karakteristik lapangan gas di tanah air saat ini minim akan kandungan senyawa berat, sehingga proses produksi LPG domestik berjalan kurang optimal.
"LPG itu kandungannya C3 dan C4, sedangkan lapangan kami itu sedikit yang menghasilkan gas dengan kandungan tersebut. Sekarang konsumsi LPG kami sudah di angka 8 jutaan atau 8,7 juta ton. Artinya, kami sudah terbebani subsidi sangat besar dan sangat tergantung dari suplai luar (impor)," ujar Laode dalam sebuah sesi podcast di Kementerian ESDM, dikutip Senin 18 Mei 2026.
Kondisi riil ini serupa dengan momentum pada tahun 2007 silam, di saat pemerintah mengambil keputusan berani untuk mengonversi penggunaan minyak tanah ke LPG. Laode mengilustrasikan pemakaian minyak tanah pada era tersebut layaknya menghambur-hamburkan bahan bakar untuk pesawat terbang.
"Minyak tanah itu sebenarnya kandungan avtur. Jadi kalau kami dulu pakai minyak tanah, itu mirip kami goreng pisang pakai avtur," ucapnya.
Demi memotong ketergantungan atas komoditas impor, pemerintah kini mengalihkan fokus pada opsi CNG dan LNG. Meninjau dari struktur kimianya, Laode memaparkan bahwa kedua jenis gas tersebut mirip karena didominasi oleh unsur gas metana (C1) serta etana (C2) yang stoknya sangat melimpah di Indonesia.
Faktor pembeda utama di antara keduanya sekadar terletak pada mekanisme penyaluran di saat infrastruktur pipa gas reguler tidak mampu menjangkau area konsumen, utamanya pada wilayah kepulauan seperti Indonesia.
Laode pun memakai analogi yang sangat sederhana agar publik mudah menangkap skema produksi CNG.
"Salah satu caranya gas tersebut kami kompres. Secara sederhananya itu dari jeruk kami kompres jadi kelereng. Jadi jeruk-jeruk yang besar tadi dikecil-kecilin biar bisa diantarkan melalui tabung. Tapi memang tekanannya tinggi, sekitar 200 sampai 250 bar. Beda jauh dengan LPG yang cuma 5 sampai 10 bar," jelas Laode.
Sementara untuk skenario LNG, prosesnya berlainan dengan CNG yang bertumpu pada daya tekanan tinggi. LNG mendayagunakan teknologi pembekuan super ekstrem agar wujud gas bertransformasi menjadi bentuk cairan.
"Kalau CNG itu dikompres maksimum 1/250 sampai 1/300 kalinya. Tapi kalau LNG itu bisa diperkecil hingga 1/600 kalinya, tapi temperaturnya harus dijaga minus 160 derajat Celcius agar tetap cair. Ini yang kami pakai untuk dikirim jauh atau diekspor menggunakan kapal," tambahnya.
Langkah masif pemerintah dalam mengintegrasikan CNG ke sektor rumah tangga guna mensubstitusi tabung melon 3 kg memantik keraguan publik. Masyarakat luas jamak mengkhawatirkan faktor keselamatan, mengingat CNG beroperasi pada tingkat tekanan yang jauh lebih tinggi ketimbang LPG.
Merespons ketakutan warga, Laode menegaskan bahwa skema transisi ini telah digodok dengan matang. Pemerintah pun sudah menyiapkan sarana penunjang berbasis teknologi paling mutakhir, yakni tabung khusus dengan spesifikasi tipe 4.
"CNG ini sebenarnya bukan hal baru, risetnya sudah banyak. Sekarang teknologi tabung untuk CNG itu sudah ada Tipe 1 sampai Tipe 4," kata Laode.
Laode menjabarkan bahwa tabung tipe 1 materialnya murni memanfaatkan logam berat. Sementara untuk Tipe 2 dan Tipe 3 komponennya telah dipadukan dengan lapisan fiber. Menyongsong era baru pemanfaatan CNG ini, pemerintah langsung menetapkan standar mutu paling tinggi.
"Tipe 4 itu sudah sama sekali fiber, sangat ringan dan sangat kuat, tetapi memang mahal. Jadi ketika sekarang Pak Menteri mencanangkan CNG ini, memang kami sudah sampai pada teknologi tipe 4. Pak Menteri sudah mempersiapkan itu, jadi bukan berarti kami baru mulai meraba-raba," pungkas Laode.
Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian ESDM secara resmi telah menggulirkan proyek berskala besar demi memangkas ketergantungan terhadap impor energi via uji coba implementasi CNG selaku subtitusi LPG. Manuver taktis ini diproyeksikan mampu menyelamatkan devisa negara hingga menyentuh angka Rp130 triliun.
Bukan sekadar memperkokoh benteng ketahanan energi nasional, transisi ini juga ditargetkan sanggup mereduksi beban subsidi energi di dalam postur APBN.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengutarakan bahwa secara nilai komersial, CNG berbiaya jauh lebih ekonomis dengan taksiran harga berkisar 30 hingga 40 persen lebih murah dibandingkan LPG.
Nilai plus utama dari CNG berakar pada ketersediaan bahan baku sekaligus mata rantai infrastruktur yang seluruhnya dikelola di dalam negeri. Hal ini otomatis memotong pengeluaran pos biaya impor yang selama ini memperberat neraca perdagangan Indonesia.
"Karena yang pertama gasnya itu ada di kami dan industrinya ada di kami, dalam negeri. Jadi tidak kami melakukan import," jelas Bahlil dalam pernyataan resminya.