OJK Gandeng UIN Raden Intan Lampung Edukasi Bursa Karbon

OJK dan UIN RIL Gelar Sosialisasi Perdagangan. (Sumber Foto: NET)
Penulis: Talita Malinda
Selasa, 19 Mei 2026 | 12:48:03 WIB

BANDAR LAMPUNG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) menyelenggarakan agenda Sosialisasi Perdagangan Karbon di Bursa Karbon.

Forum tersebut dihelat di Ballroom UIN RIL pada Senin (18/05/2026) dengan dihadiri oleh segenap civitas akademika, mahasiswa, pelaku usaha, serta para tamu undangan yang memenuhi tempat acara. Saat membacakan keynote speech, Rektor UIN RIL, Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D., menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada pihak OJK atas kemitraan dan sinergi yang terbangun dengan UIN RIL dalam menginisiasi program ini.

“Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas sinergi dan kolaborasi yang dibangun bersama UIN Raden Intan Lampung dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kerja sama ini merupakan langkah penting dalam memperkuat literasi masyarakat terhadap isu-isu strategis global, khususnya ekonomi hijau, keuangan berkelanjutan dan perdagangan karbon,” ujarnya.

Menurut penilaian Rektor, UIN Raden Intan Lampung menjadi tempat yang amat representatif untuk melangsungkan sosialisasi ini lantaran semenjak bertransformasi status dari IAIN menjadi UIN pada tahun 2017, lembaga keagamaan ini konsisten menerapkan basis kampus hijau yang ramah lingkungan. Hal itu, menurut penjelasannya, terefleksi lewat komitmen kuat dari seluruh sivitas akademika dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Ia mengimbuhkan bahwa sejak tahun 2018, UIN RIL terus mempertahankan peringkat teratas di klaster PTKIN dalam skema pemeringkatan UI GreenMetric.

Rektor juga memberikan atensi terhadap tantangan global berupa perubahan iklim, kerusakan alam, serta lonjakan emisi karbon yang membutuhkan jalan keluar kolaboratif antara pemerintah, sektor industri, lembaga finansial, dan dunia perguruan tinggi.

“Kehadiran bursa karbon menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung upaya mengurangi emisi, sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang berbasis berkelanjutan,” katanya.

Prof. Wan meyakinkan bahwa perguruan tinggi memikul tanggung jawab moral serta akademis untuk mendukung agenda pembangunan berkelanjutan lewat instrumen pendidikan, riset, pengabdian masyarakat, sekaligus membangun kesadaran di kalangan generasi muda. Sebagai institusi pendidikan tinggi keagamaan Islam, ia melanjutkan, UIN RIL memandang bahwa aktivitas menjaga kelestarian alam sangat sejalan dengan prinsip-prinsip Islam yang memosisikan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

“Oleh karena itu penguatan wawasan mengenai bursa karbon dan ekonomi hijau tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga memiliki dimensi etik dan spiritual dalam menjaga keberlangsungan kehidupan,” ujarnya.

Rektor menghendaki agar program ini mampu menyajikan pemahaman yang komprehensif seputar mekanisme kerja bursa karbon, masa depan pengembangannya di tanah air, serta andil dari para akademisi dan mahasiswa dalam mengawal transisi menuju ekonomi berkelanjutan.

Di pihak lain, Kepala Departemen Pengawasan Keuangan Derivatif, Bursa Karbon, Transaksi Efek, dan Pemeriksaan Khusus OJK, I Nyoman Suka Yasa, mengutarakan bahwa edukasi ini menjadi bagian dari agenda berkala OJK untuk mendongkrak tingkat literasi serta inklusi masyarakat pada sektor jasa keuangan dan pasar modal. Ia memaparkan bahwa dalam rangkaian acara selama dua hari di wilayah Lampung, OJK bersama mitra terkait juga menggelar agenda lainnya, termasuk sosialisasi obligasi daerah yang dihadiri langsung oleh Gubernur Lampung serta sosialisasi investasi reksadana.

“Literasi dan inklusi itu sesuatu yang harus mutlak kami miliki. Inklusi saja tanpa literasi bisa menjadi bumerang karena ketika terjun ke industri jasa keuangan tanpa memahami risikonya, maka bisa menimbulkan persoalan seperti judi online, scamming dan lain sebagainya,” kata Nyoman.

Menurut pandangannya, sistem perdagangan karbon pada saat ini tengah menjadi pusat perhatian di level nasional maupun internasional sebagai instrumen krusial demi mendukung tata kelola perubahan iklim serta pemenuhan target net zero emission Indonesia pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat. Ia menjabarkan bahwa lewat perdagangan karbon, perusahaan atau pelaku usaha yang sanggup menekan emisi bisa memperoleh keuntungan ekonomi dari unit karbon yang diproduksi. Sebaliknya, entitas lain dapat mengeksekusi pembelian unit karbon tersebut untuk memenuhi target reduksi emisi mereka secara valid dan transparan.

Ia pun mengamati bahwa Provinsi Lampung menyimpan potensi yang melimpah dalam sektor pengembangan perdagangan karbon, utamanya dari bidang kehutanan serta tata guna lahan berkelanjutan. Kendati demikian, sampai saat ini baru ada satu pengguna jasa karbon yang terdaftar dari wilayah Lampung.

“Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang mengingat Lampung memiliki potensi besar untuk dikembangkan baik melalui skema nature based solution pada sektor kehutanan dan perkebunan maupun teknologi based solution melalui pengolahan limbah dan efisiensi industri,” katanya.

Melalui edukasi ini, OJK menaruh harapan agar Provinsi Lampung mampu mengambil peran sebagai salah satu penggerak utama dalam perluasan perdagangan karbon di area Sumatera dan kawasan Indonesia bagian barat. Nyoman pun menitikberatkan besarnya prospek perdagangan karbon bagi dunia akademik dan mahasiswa, khususnya dalam ranah riset, penemuan inovasi, serta peningkatan mutu sumber daya manusia di bidang ekonomi hijau dan pembiayaan berkelanjutan.

Menurutnya, universitas memegang peran yang strategis untuk menyusun metodologi, kajian ilmiah, hingga masukan kebijakan demi menyokong ekosistem perdagangan karbon domestik, termasuk pemanfaatan instrumen modern seperti artificial intelligence, blockchain, remote sensing, hingga digitalisasi MRV untuk keperluan pencatatan serta validasi unit karbon.

Agenda ini turut dihadiri oleh Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung Otto Fitriandy, Kepala Direktorat Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Bayu Samodro, Wakil Ketua Umum Bidang Perbankan dan Lembaga Keuangan Non Bank Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Lampung Irfan Gani, S.E., M.M., beserta jajaran pengurus KADIN Provinsi Lampung dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Turut hadir pula jajaran Wakil Rektor, Direktur Pascasarjana, para Dekan, Wakil Dekan, dosen, tenaga kependidikan, serta para mahasiswa dari FEBI UIN RIL maupun perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung.

Adapun jajaran pembicara yang mengisi materi dalam sosialisasi ini antara lain Eko Nugroho, Perencana Ahli Muda Direktorat Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup yang mengulas materi Optimalisasi Nilai Ekonomi Karbon: Memperkuat Integritas Data SRUK dalam Ekosistem Pasar Karbon Global. Selanjutnya ada Putri Rafika Dewi selaku Kepala Subbagian Sustainable Finance and Climate Solutions PT Sucofindo, yang menguraikan materi Memastikan Kredibilitas Unit Karbon: Implementasi Prinsip MRV (Monitoring, Reporting, Verification) yang Akuntabel. Di samping itu, Puspita Pratiwi perwakilan dari Tim Pengembangan Carbon Trading dan Inisiatif Baru IDX turut menjabarkan bahasan mengenai Peran Bursa Karbon dan Mekanisme Transaksi Karbon melalui Bursa.

Reporter: Talita Malinda