Sepanjang 2025, PGEO Hemat Energi Hingga 90.502 MWh

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Selasa, 19 Mei 2026
Sepanjang 2025, PGEO Hemat Energi Hingga 90.502 MWh
Dekarbonisasi Nasional. ( Sumber : NET )

JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (IDX: PGEO) atau PGE sebagai entitas renewable energy berbasis panas bumi konsisten mengokohkan andilnya dalam menyokong target Net Zero Emission (NZE) Indonesia serta sumbangsih bagi Nationally Determined Contribution (NDC) lewat penyediaan energi rendah karbon.

Kendati lini bisnis yang digeluti sudah menjadi bagian dari energi hijau rendah emisi, PGE tetap ajeg melaksanakan beragam program efisiensi energi serta reduksi emisi di seluruh cakupan bisnis dan operasionalnya. Langkah tersebut merupakan bagian dari pengejawantahan operasi yang berkelanjutan.

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menyampaikan bahwa pengaplikasian praktik keberlanjutan secara berkesinambungan menjadi instrumen krusial demi menggaransi ekspansi panas bumi yang andal, efisien, serta memiliki daya saing kuat.

Andi menambahkan, seluruh implementasi keberlanjutan Perseroan dijalankan secara transparan dengan mengacu pada standar pelaporan global. Pelaporan keberlanjutan Perseroan juga telah melalui proses verifikasi oleh lembaga independen berlisensi AA1000 dengan kualifikasi assurance type 1 dan type 2 level moderate.

Merujuk pada Laporan Keberlanjutan 2025, PGE membukukan penghematan energi mencapai 90.502,28 MWh sepanjang tahun lalu, melonjak drastis jika dikomparasikan dengan perolehan tahun sebelumnya yang sebesar 40.058,77 MWh.

Akselerasi efisiensi tersebut dipicu oleh beragam langkah optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP), di antaranya debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu yang memberikan ruang bagi sumur bertekanan rendah untuk masuk ke sistem produksi, optimalisasi kinerja vacuum pump pada Gas Extraction System di seluruh PLTP PGE guna menekan tingkat own use, serta modifikasi hand control valve di Lumut Balai demi meminimalkan uap yang terbuang ke rock muffler.

Di samping itu, Perseroan juga konsisten memacu aneka terobosan efisiensi energi dan penurunan emisi, termasuk pemanfaatan energi terbarukan bagi pemenuhan kebutuhan internal operasional seperti aplikasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lingkungan fasilitas kerja dan perkantoran.

Langkah ini ditempuh guna mengoptimalkan pemanfaatan daya listrik serta uap panas bumi agar mampu menyumbang kontribusi yang lebih masif bagi sistem ketenagalistrikan nasional.

Pada sisi lain, PGE mencatatkan rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh pada tahun 2025 atau melorot 10,10 persen dibanding capaian tahun sebelumnya. Rasio ini didapatkan dari perbandingan antara totalitas energi yang diserap Perseroan dengan jumlah keseluruhan listrik panas bumi yang diproduksi.

Hasil ini memperlihatkan semakin efisiennya pemanfaatan energi dalam menyokong aktivitas operasional korporasi. Sementara itu, tingkat serapan energi terbarukan di dalam operasional tetap terjaga pada level tinggi mencapai 94,36 persen.

Dari aspek tata kelola emisi, intensitas emisi PGE tercatat pada angka 41,12 g CO2e/kWh atau masih berada jauh di bawah garis ambang batas EU Taxonomy serta Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 g CO2e/kWh.

Capaian tersebut membuktikan bahwa operasional panas bumi milik PGE tetap berada dalam koridor kategori energi rendah karbon. Di saat yang sama, kapasitas operasional panas bumi PGE ikut mendatangkan kontribusi terhadap penghindaran emisi yang melampaui 4,29 juta ton CO2e sepanjang 2025.

Perkuat Praktik 4R dan Efisiensi Air

Di luar program efisiensi energi dan penekanan emisi, PGE juga terus memperkokoh penanganan limbah non-B3 secara berkelanjutan lewat kerangka kerja 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery).

Sepanjang 2025, kapasitas limbah non-B3 yang berhasil ditangani melalui skema tersebut menyentuh 17 ton, merosot atau dalam hal ini mengalami kenaikan efisiensi pengelolaan sebesar 24,5 persen dibanding tahun 2024 yang tercatat sebesar 13,66 ton.

Manajemen limbah berkelanjutan ini dieksekusi via pendekatan waste circularity dengan menerapkan penanganan limbah non-B3 secara berkala dan akuntabel. Limbah non-B3 tersebut dimobilisasi ke bank sampah dan/atau tempat pemrosesan akhir (TPA) di luar kawasan operasional PGE untuk diproses bareng masyarakat sekitar melalui aksi pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, serta pengomposan.

Agenda ini dijalankan guna menyokong tata kelola sampah berbasis doktrin 4R sekaligus memantik keterlibatan publik dalam pusaran ekonomi sirkular.

Di sisi berbeda, PGE juga terus mempertajam pengelolaan sumber daya air secara bertanggung jawab sebagai pilar dari implementasi operasi berkelanjutan. Pada 2025, tingkat konsumsi air Perseroan terpantau menyusut 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter bila dikomparasikan dengan volume 393,23 megaliter pada tahun 2024.

Terus Berinovasi Manfaatkan Energi Bersih

Manifestasi komitmen tersebut juga disalurkan lewat ekspansi beyond electricity, termasuk pembentukan ekosistem green hydrogen berbasis panas bumi.

Salah satu contoh riilnya yakni via proyek Tanjung Sekong Green Terminal yang mendayagunakan green hydrogen berbasis panas bumi demi memasok kebutuhan energi di terminal LPG Cilegon. Terobosan ini menjadi bagian dari ikhtiar menyajikan resolusi dekarbonisasi lintas sektor.

PGE pun terus membuka keran peluang ekspansi pemanfaatan energi panas bumi untuk memenuhi kebutuhan sektor industri hijau lainnya, termasuk pengembangan green data center berbasis energi bersih rendah emisi.

Selaras dengan penguatan implementasi keberlanjutan itu, tata kelola LST Perseroan terus menorehkan performa positif. Hal ini terekam dari perolehan skor Sustainalytics ESG Risk Rating sebesar 7,1 atau masuk dalam kategori risiko dapat diabaikan yang diraih pada 2025.

Nilai ini memosisikan PGE sebagai satu-satunya entitas asal Indonesia yang sukses menembus daftar Top 50 ESG Global dari total 42 negara. Prestasi tersebut merefleksikan kokohnya implementasi ESG Perseroan di kancah internasional, utamanya dalam mengendalikan risiko aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.

Bukan hanya itu, Perseroan pun sukses menggondol beragam penghargaan dan legitimasi, termasuk perolehan 20 penghargaan PROPER Emas hingga tahun 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

“Pengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih. PGE juga memastikan seluruh operasional dijalankan secara bertanggung jawab, efisien, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar,” kata Andi Joko Nugroho, dalam keterangannya kepada media, dikutip Senin (18/5/2026).

“Karena itu, penguatan praktik ESG dan implementasi operasi berkelanjutan akan terus menjadi prioritas Perseroan ke depan. Komitmen tersebut dijalankan sejalan dengan empat pilar keberlanjutan PGE, yaitu Nature, Zero Emission, People & Socioeconomics, serta Transformation Catalyst,” imbuh dia.

Sebagai instrumen energi baru terbarukan, panas bumi tergolong sebagai opsi energi baseload andal yang sanggup memproduksi daya listrik secara stabil selama 24 jam penuh tanpa bergantung pada kondisi cuaca ataupun pasokan impor bahan bakar. Karakteristik unggulan ini menjadikan panas bumi memegang peran krusial dalam menyokong transisi energi rendah emisi sekaligus mengukuhkan ketahanan dan kedaulatan energi nasional.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua