Tantangan Integrasi Energi Surya dan Fleksibilitas Sistem Kelistrikan

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 19 Juni 2026
Tantangan Integrasi Energi Surya dan Fleksibilitas Sistem Kelistrikan
Sistem Energi Asia Tenggara. ( Sumber : NET )

JAKARTA – Energi surya semakin populer di kalangan anak muda di Asia Tenggara, dan seringkali dipandang sebagai salah satu pemanfaatan energi terbarukan yang mudah menuju dekarbonisasi.

Namun demikian, optimisme tersebut perlu dilengkapi dengan pendekatan sistemik atau biasa disebut system thinking.

Hal ini diulas dalam Energy Webinar Series: Solar yang diselenggarakan oleh Youth for Energy Southeast Asia (Y4E-SEA), dengan dukungan IESR sebagai Sekretariat Jaringan Kolaboratif Transisi Energi Asia Tenggara (SETC).

Webinar ini menantang persepsi umum bahwa energi surya merupakan solusi sederhana dan tanpa batas untuk mengatasi perubahan iklim.

Sebaliknya, diskusi menekankan bahwa tantangan utama tidak hanya terletak pada produksi energi terbarukan, tetapi juga pada bagaimana memastikan energi tersebut dapat diserap, didistribusikan, dan dimanfaatkan secara optimal dalam sistem kelistrikan yang kompleks dan dinamis.

Sistem kelistrikan memerlukan keseimbangan terus-menerus antara pasokan dan permintaan.

Dalam praktiknya, hal ini berarti energi terbarukan, khususnya energi surya, tidak selalu dapat dimanfaatkan sepenuhnya ketika produksi melebihi permintaan secara real-time atau ketika infrastruktur jaringan listrik belum memadai.

Fenomena ini dikenal sebagai solar curtailment, yaitu kondisi di mana energi bersih tidak dapat digunakan meskipun kapasitas pembangkit terus meningkat.

Alvin Sisdwinugraha, Kepala Pemodelan Sistem Ketenagalistrikan, IESR menekanakan bahwa tantangan dalam pengembangan energi surya bukanlah hambatan mendasar.

Tantangan tersebut lebih tepat dipandang sebagai persoalan rekayasa, kebijakan, dan koordinasi, yang sebenarnya sudah dapat diatasi dengan teknologi dan strategi yang tersedia saat ini.

Berbagai solusi telah tersedia untuk mengatasi variabilitas energi surya dan curtailment, antara lain Battery Energy Storage Systems (BESS) untuk menyimpan kelebihan produksi listrik pada siang hari, smart inverter dan smart meter untuk meningkatkan responsivitas jaringan listrik, serta energy management systems untuk mengoptimalkan pola konsumsi listrik.

Namun demikian, solusi teknologi saja tidak cukup.

Meningkatkan implementasi energi surya di Asia Tenggara memerlukan transformasi sistem energi yang lebih luas, mencakup:

Modernisasi infrastruktur jaringan listrik agar mampu menampung penetrasi energi terbarukan yang lebih besar.

Penguatan kerja sama regional melalui inisiatif seperti ASEAN Power Grid, yang memungkinkan penyeimbangan pasokan dan permintaan antarnegara.

Pengembangan regulasi dan kode jaringan (grid codes) yang mendukung sistem energi yang fleksibel dan terdesentralisasi.

Peningkatan partisipasi konsumen, termasuk melalui distributed energy resources (DER) dan manajemen sisi permintaan.

Hal ini menegaskan pentingnya memandang transisi energi sebagai tantangan desain sistem secara menyeluruh, bukan sekadar persoalan teknologi.

Pembahasan Alvin didasari juga oleh materi yang disampaikan oleh Giang Ngoc Huong Vu, Data Analyst dan Direktur Komunikasi Y4E-SEA.

Salah satu insight paling menarik disampaikan dalam sesi Giang, yang menggunakan analogi sederhana untuk menjelaskan konsep solar curtailment.

Energi surya dianalogikan seperti kegiatan berkebun:

Sama seperti kebun yang dapat menghasilkan lebih banyak buah dan sayuran daripada yang dapat langsung dikonsumsi, panel surya juga dapat menghasilkan lebih banyak listrik daripada yang dapat diserap oleh jaringan listrik pada waktu tertentu.

Hal ini kemudian memunculkan tantangan yang dikenal sebagai duck curve, yang ditandai oleh tingginya produksi listrik surya pada siang hari, rendahnya permintaan pada periode yang sama, serta lonjakan permintaan yang tajam pada sore hingga malam hari ketika produksi surya menurun.

Pesan utamanya jelas yakni meningkatkan kapasitas pembangkit surya saja tidak cukup.

Untuk memaksimalkan manfaatnya, pengembangan tersebut harus diiringi dengan kesiapan infrastruktur, fleksibilitas sistem, serta desain kebijakan yang tepat.

Webinar ini menyoroti bahwa masa depan energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas energi terbarukan yang terpasang, tapi juga bergantung pada kemampuan untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih cerdas, fleksibel, dan saling terhubung.

Kawasan Asia Tenggara harus mengatasi kesenjangan infrastruktur jaringan, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta membangun generasi baru profesional energi yang memahami kompleksitas integrasi sistem.

Dengan memperkenalkan tantangan nyata seperti curtailment dan keseimbangan jaringan, webinar ini bertujuan untuk mendorong pola pikir kritis dan memberdayakan generasi muda agar dapat berkontribusi lebih strategis dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan energi di masa depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua