JAKARTA – Popularitas penggunaan mobil listrik atau electric vehicle (EV) di dalam negeri terus merangkak naik dalam beberapa tahun terakhir.
Pilihan model yang semakin variatif serta inovasi teknologi baterai membuat kendaraan listrik kian diminati masyarakat karena dianggap lebih ekonomis dan bersahabat bagi alam.
Namun, meningkatnya populasi mobil listrik ini juga menuntut metode perawatan yang berbeda dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar bensin.
Salah satu aspek yang mulai menjadi sorotan utama adalah kesehatan baterai.
Komponen ini memegang peranan sangat vital terhadap performa, jarak tempuh, hingga nilai jual kembali kendaraan di masa depan.
Masalah yang kerap mencemaskan para pemilik EV adalah penurunan atau degradasi kualitas baterai.
Fenomena ini berhubungan dengan berkurangnya kapasitas baterai secara alami seiring durasi pemakaian serta reaksi kimia yang terjadi pada sel lithium-ion.
Menurut penjelasan Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe, penurunan fungsi baterai pada mobil listrik memang merupakan proses yang tidak dapat dihindari. Meski demikian, laju penurunan tersebut tetap bisa diperlambat melalui kebiasaan penggunaan dan prosedur pengisian daya yang tepat.
“Degradasi baterai EV terjadi secara alami seiring bertambahnya usia sel lithium-ion dan mengalami perubahan kimia akibat penggunaan, yang menyebabkan penurunan kapasitas maksimum secara perlahan dari waktu ke waktu,” kata Gofar.
Gofar menjelaskan bahwa salah satu upaya menjaga ketahanan baterai adalah dengan menghindari kebiasaan mengisi daya hingga 100 persen setiap hari, terutama jika kendaraan tidak digunakan untuk perjalanan jauh.
Menurut Gofar, menjaga tingkat daya baterai pada rentang tertentu dapat membantu mengurangi tekanan pada sel-sel di dalamnya.
Selain itu, pemilik juga disarankan untuk tidak sering membiarkan sisa daya baterai berada di level yang sangat rendah atau mendekati nol persen.
“Pola charging sangat berpengaruh terhadap umur baterai. Penggunaan yang lebih bijak bisa membantu memperlambat degradasi,” ujarnya.
Selain faktor kebiasaan pengisian daya, suhu lingkungan juga berperan dalam memengaruhi stabilitas baterai mobil listrik.
Paparan suhu panas yang ekstrem dalam waktu lama disebut dapat memicu percepatan penurunan fungsi baterai.
Oleh sebab itu, pengguna mobil listrik sangat disarankan untuk memarkir kendaraan di tempat yang teduh, terutama saat cuaca terik.
Penggunaan fitur pengisian cepat atau fast charging juga sebaiknya dibatasi dan hanya dipakai saat situasi mendesak.
Kendati demikian, Gofar menegaskan bahwa degradasi baterai adalah proses normal yang terjadi secara bertahap pada kendaraan listrik.
Selama digunakan dan dirawat dengan benar, baterai EV umumnya tetap memiliki daya tahan yang panjang dengan kemampuan yang masih memadai untuk menunjang aktivitas sehari-hari.