Inovasi Sosial SIG: Ubah Limbah Kelapa Jadi Pakan Ternak yang Efisien

Proses olah limbah kelapa jadi cocopeat sebagai campuran pakan ternak. (Sumber Foto: NET)
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 24 Juni 2026 | 16:43:46 WIB

JAKARTA -  PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SIG) terus memperluas penerapan program ekonomi sirkular di sekitar wilayah operasionalnya.

Lewat anak usahanya, PT Solusi Bangun Andalas (SBA), perseroan meluncurkan program inovasi sosial bernama Sakeladera untuk mengubah limbah padat di kawasan wisata Pantai Lampuuk, Aceh, menjadi bahan baku pakan ternak.

Langkah taktis ini dirancang untuk mengatasi masalah timbulan sampah kelapa pariwisata yang mencapai 60 ton per bulan.

Sebelumnya, limbah tersebut hanya dibakar dan memicu pelepasan emisi karbon hingga 34,8 ton $CO_2$ per bulan ke atmosfer.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menerangkan bahwa program Sakeladera merupakan implementasi nyata dari Sustainability Roadmap SIG 2030.

”Program Sakeladera menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan dengan rasio Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,5. Artinya, setiap Rp1 investasi yang ditanamkan perusahaan, berhasil menghasilkan Rp2,5 manfaat langsung bagi masyarakat. Inovasi sosial ini terbukti berhasil mengatasi kerusakan lingkungan sekaligus memacu kesejahteraan,” urai Vita dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (23/6/2026).

Melalui program ini, limbah sabut kelapa diekstraksi menggunakan mesin pencacah menjadi cocopeat untuk digunakan sebagai campuran pakan ternak alternatif.

Berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri, produk cocopeat tersebut dinyatakan lulus uji kelayakan karena kaya akan kandungan kalsium dan protein yang dibutuhkan hewan ternak.

Langkah substitusi ini menjadi angin segar bagi para peternak unggas lokal di Lhoknga, Aceh, yang sebelumnya mengalami ketergantungan pasokan pakan dari luar daerah dengan beban biaya tinggi mencapai Rp48 juta per bulan.

Dalam eksekusinya, PT Solusi Bangun Andalas menggandeng komunitas lokal, Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil), yang merupakan kelanjutan dari program pelestarian pesisir “Sobat Si Abes” sejak 2022.

Muhammad Ikhsan, perwakilan warga dari Kelompok Usaha Puyuh Andalas binaan SBA, menyatakan bahwa pasokan cocopeat hasil olahan limbah ini merubah struktur biaya produksi kelompoknya secara signifikan.

Sampah yang awalnya dibuang percuma kini menjadi komoditas substitusi yang mengamankan kelancaran operasional usaha peternakan di tingkat akar rumput.

Manajemen SIG menegaskan akan terus memacu seluruh entitas bisnis di bawah payung holding untuk melahirkan solusi konstruksi dan sosial yang adaptif.

Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kinerja fundamental korporasi, menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, sekaligus meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap komitmen hijau ESG emiten SMGR.

Reporter: Talita Malinda