Hilirisasi Dongkrak Ekspor Namun Risiko Lingkungan Perlu Diwaspadai
- Kamis, 30 April 2026
JAKARTA – Kebijakan hilirisasi dongkrak ekspor komoditas nasional secara signifikan namun memicu kekhawatiran terkait beban energi serta risiko kerusakan lingkungan hidup.
Lonjakan nilai jual produk olahan mineral di pasar global memang memberikan keuntungan besar bagi cadangan devisa negara tahun ini.
Andry Satrio Nugroho berpendapat, bahwa peningkatan kapasitas produksi pada sektor smelter masih sangat bergantung pada penggunaan energi batu bara yang tinggi.
Baca JugaESDM Respons Tambang Nikel WBN Tutup dengan Opsi Revisi RKAB
"Kita melihat ekspor memang meningkat pesat, tapi di sisi lain, jejak karbon dari industri ini juga sangat besar karena sebagian besar smelter masih menggunakan PLTU mandiri," ujar Andry Satrio Nugroho, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Kamis (30/4/2026).
Pemerintah kini dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan antara ambisi ekonomi dan komitmen terhadap target emisi nol bersih.
Banyak pihak menyoroti potensi degradasi lahan dan pencemaran sumber air di sekitar lokasi pengolahan yang perlu mendapat penanganan serius dari regulator.
Penerapan standar lingkungan yang lebih ketat diharapkan bisa meminimalisir dampak buruk bagi masyarakat yang tinggal di kawasan lingkar tambang.
Upaya ini menjadi kunci utama agar daya saing produk manufaktur Indonesia tetap diterima oleh pasar internasional yang semakin peduli pada isu keberlanjutan.
Talita Malinda
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026
Berita Lainnya
Terpopuler
1.
Minyak Goreng Subsidi Langka di Pasar Tradisional NTB
- 30 April 2026
2.
3.
4.
5.
iCar Generasi Terbaru Tawarkan Konsep Mobilitas Modern
- 30 April 2026











