Sekjen PBB Peringatkan Dampak Buruk Krisis Iklim dan Energi Global

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Rabu, 24 Juni 2026
Sekjen PBB Peringatkan Dampak Buruk Krisis Iklim dan Energi Global
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres. ( Sumber : NET )

LONDON Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi tantangan serius dari krisis iklim dan krisis energi yang saling terhubung.

Keduanya memiliki akar permasalahan yang sama, yakni ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.

Dalam pidatonya di London Climate Action Week, Guterres menyoroti memburuknya perubahan iklim di tengah ketidakpastian geopolitik yang memperlihatkan kerentanan sistem energi yang masih bergantung pada minyak, batu bara, dan gas.

“Krisis iklim yang mendorong kami semakin dalam menuju suhu yang lebih tinggi dan semakin dekat dengan titik-titik kritis yang membawa bencana. Dan krisis energi yang menunjukkan betapa salahnya dunia karena terus-menerus bergantung pada energi hidrokarbon,” kata Guterres, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya, solusi atas kedua krisis tersebut adalah percepatan transisi yang adil ke energi bersih.

“Krisis-krisis ini berbagi kekuatan perusak yang sama: bahan bakar fosil dan juga menuntut jawaban yang sama: transisi yang cepat dan adil menuju energi bersih,” ujarnya.

Guterres mengingatkan dunia telah melewati sebelas tahun terpanas dalam catatan sejarah modern, dengan dampak perubahan iklim yang semakin nyata melalui bencana yang merugikan ekonomi berbagai negara.

Ia menyoroti peringatan Organisasi Meteorologi Dunia mengenai potensi El Nino yang memperburuk kenaikan suhu global, mengganggu ketahanan pangan dan air, serta meningkatkan kerentanan masyarakat.

“Setiap momen sangat berharga. Karena semakin tinggi dan lama pelampauan suhu tersebut, semakin besar risiko melewati titik kritis planet yang memicu perubahan permanen,” katanya.

Guterres juga mengutip laporan Dewan Penasihat Ilmiah PBB mengenai sistem bumi yang mendekati titik kritis, termasuk keruntuhan terumbu karang, percepatan pencairan es di Greenland dan Antartika Barat, melemahnya sirkulasi laut, serta degradasi Hutan Amazon.

“Hilangnya lapisan es yang semakin cepat di Greenland dan Antartika Barat akan mengunci kenaikan permukaan laut yang membentuk ulang garis pantai, menggusur jutaan orang, dan mengancam eksistensi beberapa negara kepulauan,” ujarnya.

Konflik di Timur Tengah pun kembali menunjukkan kerentanan sistem energi global, yang menurut Guterres memicu tekanan tidak hanya pada energi, tetapi juga memperburuk masalah utang, pangan, dan pembangunan, khususnya di negara berkembang.

“Krisis kembar ini sekali lagi mengungkap batasan dari model pembangunan yang sudah usang,” katanya.

Ia menilai ketergantungan pada bahan bakar fosil membuat sistem energi rentan terhadap konflik, sementara kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap perubahan iklim justru menjadi pihak yang paling terdampak.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mempercepat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta menciptakan sistem ekonomi rendah karbon yang lebih tangguh.

Perkembangan energi terbarukan menunjukkan tren positif, di mana dalam satu dekade terakhir biaya teknologi tenaga surya turun hampir 90 persen, tenaga angin darat lebih dari 70 persen, dan penyimpanan baterai sekitar 95 persen.

“Tahun lalu, tenaga angin dan surya melampaui seluruh pertumbuhan permintaan listrik baru di seluruh dunia,” ujarnya.

Lebih dari 90 persen kapasitas energi terbarukan baru kini lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil termurah, dengan penghematan ekonomi global sekitar 480 miliar dolar AS pada 2025 melalui pengurangan kebutuhan bahan bakar fosil.

Guterres menegaskan keamanan energi masa depan tidak lagi bisa bergantung pada impor bahan bakar fosil yang rentan terhadap gejolak geopolitik.

“Tidak ada embargo pada sinar matahari dan tidak ada blokade pada angin,” katanya.

Energi terbarukan kini menjadi fondasi keamanan energi, sementara elektrifikasi di sektor transportasi, bangunan, dan industri menjadi cara efektif untuk menekan emisi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Menutup pidatonya, Guterres menyebut dunia berada di titik persimpangan penting antara dampak iklim yang mengkhawatirkan dan revolusi energi bersih yang berkembang pesat.

“Ini adalah sebuah revolusi yang dapat membebaskan negara-negara dari harga pasar bahan bakar fosil yang naik-turun tidak menentu, memperluas akses energi bagi semua orang, memperkuat keamanan, menciptakan lapangan kerja, membersihkan udara yang kami hirup, memulihkan ekosistem yang rusak, serta membawa masa depan yang lebih aman ke dalam jangkauan kami,” ujar Guterres.

Dunia memiliki peluang untuk mengubah tantangan tersebut menjadi momentum memperkuat ketahanan, keadilan, dan kemajuan bersama melalui percepatan transisi energi terbarukan dan aksi iklim global.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua