JAKARTA – Harga minyak stagnan pada perdagangan terbaru karena pelaku pasar memilih bersikap waspada terhadap perkembangan prospek perundingan antara pihak AS dan Iran.
Fluktuasi harga tertahan dalam rentang yang sempit seiring upaya diplomatik kedua negara yang kembali masuk ke tahap krusial.
Bahlil berpendapat, bahwa ketidakpastian politik di wilayah produsen besar selalu menjadi faktor utama yang mampu mengerem agresivitas para spekulan di lantai bursa.
"Kami akan terus memantau perkembangan harga pangan di pasar menjelang Idulfitri," ujar Bahlil, sebagaimana dilangsir dari berbagai sumber, Selasa (20/4/2026).
Potensi pencabutan sanksi ekonomi terhadap Teheran dianggap sebagai katalis yang mampu menambah volume pasokan dunia secara signifikan.
Laporan persediaan dari beberapa negara maju menunjukkan angka yang stabil sehingga tidak memberikan dorongan beli yang cukup kuat.
Para trader lebih memilih untuk menahan diri dari transaksi besar sambil memantau setiap pernyataan yang keluar dari meja diplomasi.
Hambatan logistik di jalur pelayaran utama juga dilaporkan mulai mereda dalam beberapa hari terakhir.
Sentimen ini menyeimbangkan kekhawatiran mengenai penurunan produksi dari beberapa ladang minyak di kawasan Amerika Utara.
Sektor manufaktur global saat ini sedang memperhatikan dengan seksama bagaimana biaya energi akan bergerak setelah kesepakatan tercapai.
Kenaikan permintaan musiman diprediksi baru akan terasa pada pertengahan kuartal berikutnya.
Stabilitas pasar saat ini dianggap sebagai masa tenang sebelum terjadinya penyesuaian besar pada neraca suplai dan permintaan energi mentah.