JAKARTA - Masa depan komoditas nikel Indonesia untuk menyuplai industri baterai kendaraan listrik dipandang masih memiliki potensi besar, kendati muncul estimasi bahwa porsi serapan konsumsi domestik terhadap akumulasi hasil produksi nasional bakal bertahan di angka yang tergolong amat minim.
Kajian riset dari Energy Shift Institute (ESI) memproyeksikan kurang dari 1 persen hasil produksi nikel di tanah air yang akan terserap oleh sektor manufaktur baterai dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) lokal pada tahun 2035 mendatang. Associate Principal ESI, Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma menuturkan, andaikata seluruh sarana moda transportasi bermotor, khususnya jenis mobil, bertransformasi ke segmen kendaraan listrik pada 2035, tingkat kebutuhan nikel di dalam negeri masih belum akan sebanding dengan besarnya volume produksi berskala nasional.
“Perhitungan kami menunjukkan konsumsi nikel domestik untuk baterai dan EV di pasar dalam negeri tidak akan melebihi 1 persen dari produksi nikel Indonesia pada 2024,” ujar Zuhdi dalam webinar Menggali Wawasan Tata Kelola Mineral Kritis di Indonesia, Rabu (6/5/2026).
Walau demikian, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif memandang serapan nikel untuk bahan baku baterai tetap mengantongi peluang masif di masa mendatang. Menurut analisisnya, akselerasi teknologi baterai ke depan justru berpeluang mendongkrak intensitas penggunaan nikel, utamanya pada pengolahan jenis baterai yang memiliki densitas energi tinggi yang sanggup menyuplai jarak tempuh kendaraan dengan lebih jauh.
“Saya kurang sepakat. Kalau melihat perkembangan teknologi, baterai berbasis nikel masih punya prospek besar,” kata Aditya dalam forum MIND Club: Bincang-Bincang Baterai, Senin (18/5/2026).
Ia menjabarkan, tren teknologi baterai lithium-ion pada fase sekarang tengah bergeser menuju skema baterai anode-free*, yang menuntut ketersediaan material katoda dengan tingkat kepadatan energi yang mumpuni. Pada ranah tersebut, baterai dengan basis nikel dinilai memegang keunggulan tersendiri jika dikomparasikan dengan baterai lithium iron phosphate (LFP).
Aditya menilai komponen katoda yang berbasis nikel, lebih spesifik untuk varian mid-nickel sampai high-nickel, masih mengantongi peluang kuat untuk diaplikasikan secara meluas di industri. Saat ini, model baterai LFP memang sedang merajai pasar global otomotif listrik lantaran biaya operasional produksinya dinilai lebih terjangkau serta tidak melibatkan pemakaian material nikel.
Kendati begitu, Aditya mengemukakan bahwa dominasi pasar LFP tidak otomatis mengunci mati celah pasar bagi baterai berbahan dasar nikel, terlebih apabila inovasi teknologi baterai terus mengalami pembaharuan. Menurut pandangannya, varian teknologi mutakhir layaknya baterai sodium-ion serta solid-state juga masih memberi celah bagi pemanfaatan bahan nikel. Pada model baterai sodium-ion, salah satu formula kimia katoda yang sedang digarap yaitu Nickel Iron Manganese (NFM).
Sementara pada pengembangan baterai solid-state, komponen material katoda yang diaplikasikan tetap berpeluang besar mengadopsi unsur nikel, seperti Nickel Manganese Cobalt (NMC).
“Nikel masih bisa berperan dalam teknologi baterai masa depan,” ujar Aditya.
Aditya berpendapat bahwa Indonesia harus mengencangkan aspek riset dan pengembangan (R&D) agar tidak sekadar menempati posisi sebagai penyuplai bahan baku mentah, melainkan juga sanggup beradaptasi mengikuti dinamika perubahan teknologi baterai global. Menurutnya, regulasi hilirisasi harus diimbangi dengan penguatan kapasitas penguasaan teknologi agar Indonesia mampu menjaga daya saing industri baterai domestik di tengah pusaran evolusi teknologi dunia.