Tujuh Langkah Strategis PBB dalam Percepatan Transisi Energi Global

Energi Terbarukan. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 24 Juni 2026 | 10:45:22 WIB

JAKARTA - Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengungkapkan bahwa sejak tahun 2010, biaya teknologi surya telah turun hampir 90 persen, tenaga angin darat lebih dari 70 persen, dan penyimpanan baterai sebesar 95 persen.

Energi terbarukan telah berhasil menghindari emisi karbon dioksida tahunan dalam jumlah yang lebih besar daripada gabungan emisi AS, Uni Eropa, dan Jepang, ungkap Guterres, sembari menambahkan bahwa investasi energi bersih kini mencapai dua kali lipat dibandingkan bahan bakar fosil.

“Kabar baiknya adalah – tidak seperti setiap krisis energi di masa lalu – kami sekarang memiliki jalan keluar yang jelas, jalan keluar yang bersih,” kata Sekretaris Jenderal.

“Tidak ada embargo terhadap sinar matahari dan tidak ada blokade terhadap angin.”

Sebagai bagian dari cetak biru pemutusan hubungan yang bersih dengan bahan bakar fosil, Guterres menguraikan tujuh langkah kunci.

Emisi harus mencapai puncaknya sesegera mungkin dan turun tajam dalam dekade ini guna mencapai nol bersih pada tahun 2050.

Kelompok G20 negara-negara kaya harus memimpin upaya ini karena bertanggung jawab atas sekitar 80 persen emisi global, ujar Guterres.

Langkah ambisius tersebut mencakup Seruan Aksi global tentang Metana untuk mengurangi emisi gas yang memerangkap panas sekitar 80 kali lebih banyak daripada karbon dioksida.

“Dunia telah menghapus bensin bertimbal. Kami telah menghilangkan bahan kimia perusak ozon. Polusi metana harus menjadi yang berikutnya,” ujarnya.

Proyek energi bersih harus dipromosikan, sementara subsidi publik untuk proyek bahan bakar fosil baru harus dihentikan.

Delapan perusahaan bahan bakar fosil terbesar dilaporkan meraup keuntungan tambahan 6,5 miliar dolar AS hanya dalam kuartal pertama tahun ini.

Guterres mendesak pemerintah untuk mengenakan pajak kepada mereka demi membantu keluarga dan komunitas rentan serta mempercepat peralihan ke energi bersih yang terjangkau.

Setiap perusahaan AI besar harus mengukur dan mengungkapkan secara publik dampak lingkungan penuh dari pusat data, termasuk jejak karbon, air, dan lahan, serta berkomitmen menggunakan energi terbarukan pada tahun 2030.

Saat ini, pusat data AI mengonsumsi lebih banyak listrik daripada kebanyakan negara, sehingga sudah saatnya untuk berterus terang, tegas Sekretaris Jenderal PBB.

Pada tahun 2030, pusat data AI berpotensi menggunakan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seluruh 1,3 miliar penduduk Afrika sub-Sahara selama setahun penuh.

Tidak ada lagi ekstraksi tanpa pembangunan, Guterres menyerukan dukungan lebih besar untuk peralihan energi yang menguntungkan pekerja dan negara berkembang.

Guterres menyoroti kapasitas pinjaman tambahan sebesar 600-800 miliar dolar AS dari bank pembangunan multilateral yang harus digunakan secara agresif untuk infrastruktur dan adaptasi iklim.

Negara-negara maju harus menepati janji dukungan dana, termasuk 300 miliar dolar AS bagi negara berkembang untuk memobilisasi 1,3 triliun dolar AS per tahun pada 2035.

Terakhir, Sekretaris Jenderal PBB mendesak dukungan bagi sains sebagai landasan kebenaran dan sistem peringatan dini, serta langkah mengatasi kebohongan iklim.

Disinformasi menyebar secara sengaja untuk menunda aksi iklim, memperkuat kepentingan kelompok, dan mengikis kepercayaan.

Para pembela hak asasi manusia dan jurnalis yang meliput isu iklim dan lingkungan harus dilindungi, serta kepercayaan terhadap bukti dan lembaga harus diperkuat.

Reporter: Talita Malinda