Yoyok Mulyadi Desak Jatim Serius Kembangkan Energi Terbarukan

Anggota Komisi D DPRD Jatim Yoyok Mulyadi bersalaman dengan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 24 Juni 2026 | 10:45:22 WIB

SURABAYA - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di beberapa wilayah Jawa Timur beberapa hari terakhir menjadi pengingat penting akan perlunya penguatan ketahanan energi daerah.

Selain perlunya keseriusan PLN dalam menjamin keandalan pasokan agar gangguan tidak terulang, pemerintah juga harus mulai menata pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi alternatif masa depan masyarakat.

Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Yoyok Mulyadi, menilai diversifikasi energi terbarukan sangat penting.

Ia menyatakan bahwa program PLTS yang dijalankan Pemprov Jatim perlu diperluas agar menjangkau masyarakat secara langsung.

Sejak 2023 hingga 2024, Pemprov Jatim telah mendorong pemanfaatan PLTS di kantor pemerintah, sekolah, dan pesantren.

Namun pada 2026 ini, Yoyok menilai program tersebut sudah saatnya diuji coba secara lebih luas di lingkungan masyarakat, tidak hanya terbatas pada lembaga yang biaya operasionalnya ditanggung pemerintah.

“Transformasi energi terbarukan memang penting. Tetapi menyediakan SDM yang memadai dan membangun kesadaran masyarakat juga tidak kalah penting. Jangan sampai program-program yang sudah baik justru tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” ujar Yoyok.

Politisi PKB ini menuturkan bahwa keberhasilan transisi energi tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur.

Pemerintah juga harus memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk mengoperasikan, merawat, dan memperbaiki fasilitas energi terbarukan.

Yoyok mencontohkan beberapa program tenaga surya yang kurang berkelanjutan karena minimnya pendampingan, seperti lampu penerangan jalan dan fasilitas objek wisata yang terbengkalai saat rusak.

“Jangan sampai setelah masa pemeliharaan selesai, masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk mengoperasikan atau memperbaiki fasilitas tersebut. Akibatnya, investasi yang sudah dikeluarkan menjadi kurang maksimal manfaatnya,” katanya.

Oleh sebab itu, Yoyok mendorong Pemprov Jatim menyusun laporan evaluasi terhadap seluruh program energi terbarukan yang telah berjalan sebagai dasar pengembangan kebijakan.

“Diperlukan laporan yang jelas terkait efektivitas program yang sudah dijalankan. Dengan begitu masyarakat dapat melihat bahwa energi listrik berbasis energi terbarukan benar-benar lebih hemat, efisien, dan menjanjikan untuk masa depan Jawa Timur,” tegasnya.

Ia berharap momentum pasca-pemadaman listrik ini menjadi refleksi bagi pemangku kepentingan untuk mempercepat pengembangan energi alternatif.

Dengan teknologi, edukasi, dan keterlibatan masyarakat, Jawa Timur dinilai berpeluang besar menjadi daerah terdepan dalam transformasi energi bersih.

“Jargon swasembada energi harus terealisasikan, jangan hanya menjadi semboyan semata. Kami yakin jika pemerintah serius, energi alternatif berkelanjutan akan terwujud di Jatim,” pungkasnya.

Reporter: Talita Malinda