Aceh Tawarkan Potensi Migas Darat dan Laut ke Investor Dunia
JAKARTA - Aceh tetap memegang peranan krusial dalam peta industri hulu migas nasional.
Sejarah panjang sektor energi, utamanya keberhasilan ladang Arun, menjadi landasan bagi provinsi tersebut untuk memulai babak baru eksplorasi migas di wilayah daratan maupun perairan.
Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Djalal, menuturkan bahwa potensi minyak dan gas bumi di Aceh memiliki riwayat panjang dalam industri energi Indonesia.
Salah satu catatan sejarah pentingnya adalah ladang gas Arun di Aceh Utara yang sempat dikenal sebagai aset gas masif dengan cadangan sekitar 16 triliun kaki kubik.
“Potensi Aceh untuk minyak dan gas ini dari dulu sangat luar biasa. Jadi saat penemuan dan eksplorasi ladang gas di Arun oleh Exxon, itu Aceh menjadi salah satu daerah penyumbang sehingga Indonesia waktu itu termasuk dalam negara OPEC,” kata Nasri.
Menurut Nasri, prospek migas Aceh tidak hanya bergantung pada sejarah Arun.
Ia menyebut penemuan di Laut Andaman yang mencapai kisaran 10 triliun kaki kubik turut memperkuat peluang pengembangan hulu migas Aceh ke depan.
Aceh, sambungnya, juga terletak di antara dua cekungan besar.
Di bagian utara terdapat North Sumatra Basin yang membentang dari Pidie hingga Aceh Utara dan Aceh Timur.
Sementara di sisi barat dan selatan terdapat Sibolga Basin, di mana Conrad Asia Energy memegang dua wilayah kerja lepas pantai, yaitu Offshore North West Aceh dan Offshore South West Aceh.
“Jadi artinya Provinsi Aceh itu, lautan Provinsi Aceh baik di utara ataupun di barat selatan, memiliki cadangan minyak dan gas yang luar biasa, belum lagi yang di daratan. Jadi Aceh itu darat dan lautnya alhamdulillah punya cadangan minyak dan gas yang luar biasa,” ujarnya.
Di tengah potensi tersebut, BPMA menilai perlunya mendorong eksplorasi baru.
Hal ini dikarenakan sejumlah wilayah kerja migas yang ada saat ini sudah memasuki fase lapangan tua atau mature field.
Blok B, contohnya, merupakan bekas area operasi Exxon yang dikembangkan sejak era 1970-an.
Kondisi serupa juga terjadi pada Blok A dan Blok Pase yang telah masuk dalam fase penurunan alamiah atau natural declining.
“Nah salah satu target saya ketika menjadi Kepala BPMA adalah mencoba mencari cadangan baru, mencari investor baru. Ini perlu kami lakukan di samping tetap mencoba mencari alternatif untuk meningkatkan produksi,” ucapnya.
Nasri mengungkapkan bahwa kebutuhan untuk menjajaki investor baru tidak terlepas dari kondisi cadangan pada wilayah kerja yang ada mulai menipis.
Oleh karena itu, BPMA berupaya mengembangkan wilayah kerja baru agar potensi migas Aceh dapat ditindaklanjuti melalui studi, eksplorasi, serta investasi.
“Karena seperti saya sampaikan bahwa tingkat cadangan di Aceh ini sudah mengecil yang sudah ada, sehingga saya harus mencari alternatif baru dengan mencari investor-investor baru, mencoba mengembangkan wilayah-wilayah kerja baru,” ujarnya.
Demi menarik minat calon mitra, BPMA secara aktif mempromosikan potensi migas Aceh ke berbagai forum energi nasional hingga internasional.
Nasri menyebut ajang seperti Indonesia Petroleum Association (IPA), ADIPEC di Dubai, hingga forum energi di Singapura menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pemilik wilayah kerja dengan pemilik modal.
“Kami sering sekali mengikuti ekspo yang dilakukan di mana ekspo-ekspo ini baik nasional ataupun internasional itu merupakan suatu ajang yang mempertemukan antara si pemilik lapangan dengan pemilik modal,” katanya.
Langkah tersebut mulai membuahkan respons dari sejumlah calon mitra strategis.
Nasri mencontohkan perusahaan Jepang, JAPEX dan JOGMEC, sebagai salah satu hasil penjajakan BPMA pada 2023.
Proses meyakinkan perusahaan tersebut memakan waktu sekitar tujuh bulan hingga mereka mendatangi kantor BPMA, mengirimkan surat keberminatan, serta mempresentasikan proposal di Tim Wilayah Kerja Migas.
“Jepang ini, perusahaan JAPEX dan JOGMEC ini murni merupakan lobi kami di tahun 2023. Dan alhamdulillah cuma tujuh bulan kami meyakinkan perusahaan Jepang ini sampai akhirnya mereka mau berinvestasi, ditandai dengan datangnya ke kantor BPMA, kemudian mengirimkan surat keberminatan, dan terakhir mengirimkan presentasi proposal yang sudah dipresentasikan di Tim Wilayah Kerja Migas,” ujar Nasri.
Selain Jepang, BPMA juga tengah memproses Wilayah Kerja Jiwa yang melibatkan PT Agra Energi dan Maccon Energy dari Bahrain.
Nasri menjelaskan bahwa wilayah kerja tersebut saat ini masih dalam tahap joint study, sehingga kapasitasnya belum bisa dipastikan.
“Nah kalau ini kapasitasnya kami belum tahu karena ini masih tahap joint study. Mereka melakukan studi untuk wilayah kerja tersebut untuk mencari berapa cadangannya,” jelasnya.
Nasri menambahkan, joint study menjadi tahapan krusial sebelum sebuah wilayah kerja memasuki proses pelelangan.
Sesudah studi rampung, perusahaan akan memperoleh data awal mengenai potensi cadangan dan area prospektif.
Data tersebut nantinya menjadi dasar bagi pemerintah untuk melanjutkan proses lelang wilayah kerja.
“Ya yang pasti setiap joint study ketika perusahaan tersebut selesai melakukan joint study dia tentu sudah memiliki data. Artinya memiliki data berapa cadangan kemudian wilayahnya di mana dan tentu saja ketika joint study selesai itu di Dirjen Migas akan melakukan pelelangan wilayah kerja,” kata Nasri.
BPMA juga menerima surat keberminatan dari PT Energi Hijau Biru, perusahaan lokal yang bekerja sama dengan Barakah Petroleum asal Malaysia.
Selain itu, Blok Musraya yang diajukan PT Putra Indo Manunggal juga masih dalam proses.
Secara keseluruhan, Nasri menyebut ada empat wilayah kerja yang kini berada dalam pipeline BPMA.
Dua di antaranya telah memasuki proses presentasi di Tim Lelang Wilayah Kerja, sementara dua lainnya masih dalam tahap administrasi.
“Jadi saat ini sedang berproses dua yang sudah masuk ke joint study area yaitu JOGMEC dan JAPEX, kemudian PT Agra dan konsorsium dengan Maccon, dan dua lagi BUMD untuk PEMA dan perusahaan lokal Putra Indo Manunggal. Artinya ada empat wilayah kerja yang sedang dalam proses. Dua sudah proses presentasi di Tim Lelang Wilayah Kerja, dan dua lagi sedang berproses di administrasi,” ujarnya.
Nasri menilai bahwa respons dari calon mitra asal Jepang, Malaysia, hingga Bahrain membuktikan bahwa Aceh kembali dilirik sebagai wilayah prospektif untuk investasi hulu migas.
Walau demikian, ia menegaskan bahwa proses bisnis migas tidak terjadi secara instan.
“Artinya dengan masuknya perusahaan Jepang, Malaysia, Bahrain, itu menunjukkan bahwa Aceh saat ini menjadi pasar potensial untuk investasi di bidang hulu migas,” tegasnya.
Menurut Nasri, keberhasilan awal dalam forum bisnis tidak sekadar dilihat dari kesepakatan final, melainkan dari munculnya minat resmi, surat Letter of Intent (LoI), hingga kunjungan calon investor ke BPMA untuk mendiskusikan peluang lebih jauh.
“Nah artinya ya namanya proses bisnis tidak langsung serta-merta jadi, tapi minimal bagi saya adalah keberhasilan suatu delegasi dalam forum bisnis adalah ketika perusahaan tersebut menyatakan minat dengan surat LoI dan kemudian dia datang ke kantor BPMA untuk berbicara lebih lanjut,” katanya.
Bagi Nasri, daya tarik migas Aceh tidak cukup hanya ditentukan oleh potensi geologi.
Kepercayaan investor, kepastian proses, dan rasa aman menjadi faktor penting agar minat yang muncul dapat berlanjut ke tahap berikutnya.
“Dalam beberapa kegiatan tentu saja wilayah kerja-wilayah kerja ini harus memberikan sesuatu yang potensial. Kemudian harus memberikan insentif yang menarik, kemudian harus memberikan rasa aman bagi investor,” kata Nasri.
Ia menegaskan, BPMA berupaya menunjukkan bahwa Aceh sanggup memberikan kenyamanan dan jaminan investasi bagi para pelaku usaha.
Menurutnya, investasi di sektor hulu migas pada akhirnya sangat bergantung pada aspek kepercayaan.
“Investasi itu masalah trust. Bagaimana kami mau berinvestasi sementara kami enggak percaya sama lembaganya? Kami tidak percaya dengan orangnya?” ujar Nasri.
Nasri memastikan BPMA akan terus membawa potensi migas Aceh ke berbagai forum energi.
Menurutnya, Aceh tidak bisa hanya bergantung pada warisan kejayaan Arun, tetapi perlu membuka ruang eksplorasi baru agar potensi migas di darat dan lepas pantai dapat dikembangkan.
“Saya jual Aceh ke mana-mana sampai ke Abu Dhabi, Jepan hingga Singapura,” pungkasnya.