Strategi Kalimantan Beralih ke Energi Bersih demi Target NZE 2060
JAKARTA - Indonesia mulai menargetkan Net Zero Emission (NZE) tahun 2060 mendatang.
Untuk itu beberapa daerah termasuk Kalimantan kini mulai beralih ke energi terbarukan, dan meninggalkan ketergantungan pada sektor pertambangan batu bara.
NZE atau nol emisi karbon netral dicapai saat jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer, seimbang dengan jumlah yang diserap oleh bumi.
Untuk mencapainya, Indonesia tidak lagi bisa mengandalkan energi fosil.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau Dicky Edwin Hindarto menerangkan, sumber energi di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu energi terbarukan dan energi tidak terbarukan.
Energi terbarukan meliputi air, panas bumi, dan sejenisnya, sedangkan energi tidak terbarukan mencakup minyak bumi, batu bara, dan gas.
“Kemudian ada juga energi primer, yaitu energi yang belum bisa langsung digunakan, seperti air dan minyak mentah. Sementara energi final adalah energi yang sudah siap dikonsumsi, contohnya listrik, BBM, dan elpiji,” kata Dicky di Hotel Aston Samarinda, dalam pelatihan Peliputan Transisi Energi Berkeadilan bagi Jurnalis di Kalimantan Timur, Rabu 24 Juni 2026.
Menurutnya, apabila Kalimantan ingin beralih ke energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, daerah ini harus mulai mengurangi ketergantungan pada sektor batu bara.
Meski demikian, Dicky mengakui industri pertambangan selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar pendapatan daerah.
“Pemerintah telah menyusun rencana penurunan emisi di sektor energi sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Indonesia terus melakukan berbagai langkah konkret untuk menekan emisi gas rumah kaca,” ujar Dicky.
Dijelaskan, Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen melalui kemampuan dan sumber daya dalam negeri.
Sementara itu, target pengurangan emisi dapat meningkat hingga 43,20 persen, apabila mendapat dukungan dan kerja sama internasional.
Selain itu, upaya mitigasi di sektor energi pada tahun 2023 tercatat berhasil menekan emisi karbon melalui implementasi energi baru terbarukan (EBT) sebesar 51,30 juta ton, dengan efisiensi energi 31,76 juta ton.
Kemudian penggunaan bahan bakar rendah karbon yakni gas alam 15,55 juta ton, teknologi pembangkit bersih 13,33 juta ton, serta kegiatan lainnya sebesar 15,63 juta ton.
Indonesia menargetkan NZE terealisasi pada tahun 2060.
Pencapaian target tersebut diyakini bisa terwujud jika seluruh pemangku kepentingan terlibat secara aktif.
Dicky melihat saat ini pergeseran ekonomi hijau sudah mulai diimplementasikan secara luas, tidak hanya di level nasional tetapi juga di tingkat perusahaan.
Secara nasional, pemerintah mulai menambah kapasitas pembangkit energi terbarukan periode 2025–2034 dengan total target 42,6 Gigawatt (GW).
Wilayah Jawa, Madura, dan Bali mendapatkan porsi tertinggi sebesar 19,6 GW, disusul Sumatra 9,5 GW, Sulawesi 7,7 GW, Kalimantan 3,4 GW, serta Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara sebesar 2,3 GW.
Untuk wilayah Kalimantan sendiri, Dicky merincikan target penambahan kapasitas energi bersih mencapai 3,5 GW, yang terdiri dari PLTA sebesar 1.533 MW, PLTBio 79 MW, PLTN 250 MW, PLTS 1.524 MW, dan PLTB 70 MW.
Potensi dampak dari transisi batu bara ini diprediksi akan mengurangi pendapatan pemerintah daerah dan negara, menurunkan nilai ekspor, mengganggu neraca pembayaran, hingga memicu hilangnya lapangan kerja yang berujung pada migrasi para pekerja tambang.
“Namun hal ini akhirnya berdampak pada lingkungan, di mana kualitas udara akan membaik, penurunan emisi karbon, perbaikan kualitas tanah dan peningkatan ketersediaan air bersih dan lingkungan yang bersih,” demikian Dicky Edwin Hindarto.