Menilik Proyeksi Transisi Energi Global dan Nasib Batu Bara
JAKARTA - Transformasi lanskap energi dunia kini berlangsung lebih pesat daripada sepuluh tahun silam.
Batu bara yang selama ini menjadi penopang utama energi global mulai mengalami penurunan pangsa pasar.
Di sisi lain, sektor energi surya serta angin terus meluaskan pengaruhnya dalam bauran energi dunia.
Batu bara masih menjadi salah satu sumber energi terbesar dunia saat ini.
Namun posisinya perlahan terkikis.
Proyeksi OPEC menunjukkan pangsa batu bara dalam permintaan energi global dapat turun dari 26,5% pada 2024 menjadi 13,6% pada 2050.
Pada periode yang sama, energi surya dan angin diperkirakan mencatat kenaikan paling agresif di antara seluruh sumber energi.
Pergeseran ini mencerminkan arah transisi energi yang tengah berlangsung di banyak negara.
Minyak tetap bertahan sebagai sumber energi utama global, sementara gas alam menjaga fungsinya sebagai bahan bakar transisi.
Di sisi lain, investasi pada pembangkit berbasis surya dan angin terus meningkat seiring turunnya biaya teknologi dan semakin ketatnya target pengurangan emisi karbon.
OPEC melaporkan kebutuhan energi global hingga 2050 masih akan ditopang bahan bakar fosil.
Namun komposisinya berubah.
Minyak bumi tetap menjadi sumber energi terbesar dunia, sementara batu bara mengalami penurunan paling dalam dibanding sumber energi lain.
Pada 2024, minyak menyumbang 30,6% permintaan energi global.
Angka ini diperkirakan hanya turun tipis menjadi 29,8% pada 2050.
Dengan kata lain, minyak masih menjadi bahan bakar utama dunia selama seperempat abad ke depan.
Kebutuhan transportasi, industri petrokimia, serta pertumbuhan ekonomi negara berkembang masih menjaga konsumsi minyak pada level tinggi.
Nasib berbeda dialami batu bara.
Pangsa batu bara dalam konsumsi energi global mencapai 26,5% pada 2024.
Pada 2050, porsinya diperkirakan menyusut menjadi 13,6%.
Penurunan hampir 13 poin persentase tersebut menjadi yang terbesar di antara seluruh sumber energi.
Dorongan dekarbonisasi, target emisi nol bersih, dan semakin kompetitifnya energi terbarukan menjadi faktor utama yang menekan penggunaan batu bara.
Gas alam justru masih bertahan.
Pangsanya naik dari 22,7% menjadi 23,7% pada periode yang sama.
Banyak negara memanfaatkan gas sebagai sumber energi transisi karena emisi karbonnya lebih rendah dibanding batu bara.
Pembangunan pembangkit listrik berbasis gas di Asia dan Timur Tengah ikut menopang permintaan.
Energi nuklir juga memperoleh ruang lebih besar.
Pangsanya meningkat dari 4,8% menjadi 6,6% pada 2050.
Kekhawatiran terhadap ketahanan energi serta kebutuhan listrik yang terus meningkat mendorong sejumlah negara kembali melirik pembangunan reaktor nuklir generasi baru.
Sementara itu, lonjakan paling besar datang dari energi surya dan angin.
Gabungan keduanya hanya menyumbang 3,5% permintaan energi global pada 2024.
Pada 2050, porsinya diproyeksikan melonjak menjadi 13,5%.
Penurunan biaya teknologi, peningkatan kapasitas penyimpanan energi, serta investasi besar-besaran di berbagai negara membuat energi terbarukan menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat.
Meski demikian, dominasi energi fosil belum berakhir.
Minyak, batu bara, dan gas masih menguasai sekitar 80% permintaan energi dunia pada 2024.
Pada 2050 angkanya diperkirakan turun menjadi 67%.
Dunia sedang bergerak menuju energi yang lebih bersih, tetapi perjalanan tersebut berlangsung bertahap.
Dalam beberapa dekade mendatang, energi fosil masih menjadi fondasi sistem energi global, sementara energi terbarukan terus mempersempit jarak.
Bagaimana dengan Indonesia?
Dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas energi baru dan terbarukan sebesar 42,6 GW, yang setara dengan porsi 61% dari total penambahan kapasitas pembangkit.
Dari angka tersebut, energi surya mendapatkan alokasi prioritas tertinggi dengan rencana penambahan mencapai 17,1 GW.
Rencana ekspansi kelistrikan ini diperkirakan akan menyerap nilai investasi jumbo sebesar Rp 1.682,4 triliun.
Lebih jauh lagi, implementasi RUPTL ini menjadi instrumen krusial dalam peta jalan emisi, dengan target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 126,5 juta ton karbon dioksida.
Dari sisi pasokan energi listrik, dari ribuan pembangkit listrik yang aktif, sekitar 60% merupakan pembangkit listrik bertenaga batu bara, sehingga ketika supply batu bara terganggu, maka akan berdampak pada supply listrik, dan pada akhirnya menghambat laju perekonomian.
Untuk melihat lebih lanjut mengenai proyeksi energi ke depan, termasuk upaya memitigasi risiko, CNBC Indonesia akan menghadirkan Energy Forum yang menjadi forum strategis untuk mempertemukan regulator, legislatif, dan pelaku usaha.
Forum ini membahas peran sektor energi dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global dan volatilitas harga energi.
Indonesia Energy Forum menjadi ruang dialog untuk mengkaji dampak gejolak energi dunia terhadap pasokan energi Indonesia.