Kisah Wasriah, Pemulung di Klender yang Punya Dana Darurat dari Sampah
- Rabu, 13 Mei 2026
JAKARTA – Di wilayah Kelurahan Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, Wasriah (55) tampak membawa karung berisi botol plastik, kaleng, hingga besi.
Walaupun waktu memulungnya kini terbatas hanya satu jam dalam sehari, bagi Wasriah hasil tersebut sangat bermakna sebagai tabungan sekaligus dana darurat guna menyambung hidup.
Wasriah kini tidak lagi menjual seluruh barang temuannya kepada pengepul.
Baca JugaSolusi Praktis, Tukar Baterai Motor Listrik Cukup Hitungan Menit
Ia memilih untuk memilah barang bernilai tinggi seperti kaleng dan besi untuk ditabung di bank sampah yang dikelola komunitas Swara Hijau Farm.
“Sekarang enggak semuanya dijual langsung. Yang mahal seperti besi atau kaleng saya kumpulkan dulu. Nanti kalau sudah banyak, dijual untuk kebutuhan bulanan,” ujar Wasriah kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Tabungan tersebut sempat menyelamatkannya saat ia kekurangan uang sebesar Rp 150.000 untuk membayar biaya kontrakan.
Meski bagi sebagian orang angka itu tergolong kecil, bagi Wasriah uang tersebut sangatlah besar karena ia harus menanggung kebutuhan tiga cucunya, termasuk keperluan popok yang harganya tinggi.
“Popok mahal, ukuran XXL sekarang sekitar Rp 100.000. Itu cuma cukup untuk tiga hari,” katanya.
Kehidupan Wasriah memang penuh dengan tantangan. Dahulu ia pernah ditinggal suami dengan enam orang anak serta terlilit utang sebesar Rp 5 juta.
Ia berhasil melunasinya secara perlahan dengan memulung dan bekerja di Swara Hijau Farm.
Dulu, ia kerap meminjam ke bank keliling saat terdapat kebutuhan mendesak, namun kini kondisi mulai membaik.
Walaupun sekarang ia harus merawat suaminya yang mengidap stroke, ia tetap bersyukur masih bisa mengumpulkan sampah bernilai untuk ditabung.
Pengalaman serupa turut dirasakan oleh Halimah. Dari aktivitas memulung selama empat jam sehari, ia dapat membawa pulang Rp 30.000 hingga Rp 40.000 untuk keperluan dua anaknya.
Sebagian botol dan kardus ia sisihkan sebagai bentuk tabungan.
“Lebaran kemarin saya ambil tabungan Rp 150.000. Buat jajan anak-anak dan beli baju,” katanya.
Ia merasa senang karena metode ini membuatnya sanggup menyimpan uang tanpa merasa terbebani.
“Kalau dapat banyak kardus atau botol, saya sisihkan satu karung. Lama-lama jadi tabungan,” ujarnya.
Pendiri Swara Hijau Farm, Endang Mintarja, menjelaskan bahwa ide bank sampah ini muncul guna membantu para pemulung yang kerap terjebak utang bank keliling saat memerlukan dana mendadak.
Melalui bank sampah, mereka dapat menabung tanpa adanya potongan administrasi.
“Mereka cari uang hari ini untuk makan hari ini. Jadi ketika ada kebutuhan mendadak, mereka larinya ke bank keliling,” kata Endang.
Endang menilai bahwa menabung dalam wujud barang lebih efektif karena para pemulung tidak tergoda untuk lekas menghabiskannya.
Sampah-sampah tersebut kini menjadi harapan nyata bagi mereka guna memenuhi kebutuhan dasar hingga menghindari jeratan rentenir.
Talita Malinda
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026











