Pendapatan Kebijakan Ekonomi Karbon Global Lampaui US$107 Miliar

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 21 Mei 2026
Pendapatan Kebijakan Ekonomi Karbon Global Lampaui US$107 Miliar
Ilustrasi Nilai Ekonomi Karbon Cakup Sepertiga Emisi Gas Rumah. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Mekanisme Nilai Ekonomi Karbon (direct carbon pricing) saat ini telah menjangkau hampir sepertiga dari total emisi gas rumah kaca global, dengan akumulasi pendapatan kebijakan tersebut di skala dunia telah melebihi US$107 miliar.

Fakta tersebut dipaparkan dalam laporan State and Trends of Carbon Pricing 2026 yang dirilis oleh World Bank Group di Washington DC pada 19 Mei 2026.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa pendapatan dari kebijakan nilai ekonomi karbon mengalami lonjakan lebih dari tiga kali lipat sepanjang dekade terakhir, yakni meningkat dari angka di bawah US$30 miliar pada 2016 menjadi lebih dari US$107 miliar pada 2025.

Secara global, saat ini terdapat 87 kebijakan nilai ekonomi karbon yang aktif beroperasi, atau bertambah sebanyak tujuh kebijakan dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan tersebut, seluruh negara berpendapatan menengah utama kini telah menjalankan atau tengah dalam tahap penyusunan instrumen nilai ekonomi karbon.

Perkembangan yang cukup signifikan terlihat di Vietnam dan India selama satu tahun terakhir.

Laporan itu juga menunjukkan bahwa nilai ekonomi karbon tumbuh 7% dibandingkan tahun lalu dan telah meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu satu dekade.

Saat ini, rata-rata harga karbon dunia menyentuh angka hampir US$21 per ton setara CO2.

Sekarang ini, lebih dari 29% emisi gas rumah kaca dunia telah masuk ke dalam mekanisme nilai ekonomi karbon.

Angka tersebut diprediksi akan meningkat hingga sekitar sepertiga emisi global jika sejumlah negara berkembang terus melanjutkan implementasi instrumen nilai ekonomi karbon yang sedang dipersiapkan.

Managing Director dan Chief Knowledge Officer World Bank Group, Paschal Donohoe, menyatakan kebijakan nilai ekonomi karbon dan pasar karbon bisa membantu setiap negara dalam menetapkan jalur transisi energi masing-masing.

“Nilai ekonomi karbon dan pasar karbon dapat memainkan peran penting dalam memungkinkan negara menentukan bauran energi mereka sendiri,” ujar Donohoe.

Donohoe menambahkan, jika dirancang secara tepat, kebijakan tersebut mampu memacu efisiensi serta inovasi, sekaligus memobilisasi berbagai sumber daya untuk prioritas pembangunan.

Laporan itu pun menyoroti pertumbuhan pasar kredit karbon global, di mana penerbitan kredit karbon naik 8% selama periode 2024–2025.

Meskipun harga kredit karbon mengalami sedikit penurunan sepanjang 2025, sejumlah kategori proyek masih mencatat harga premium, terutama pada proyek konservasi dan restorasi hutan berintegritas tinggi serta proyek yang memenuhi syarat bagi maskapai penerbangan internasional.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua