Eramet Proyeksikan Kenaikan Signifikan Permintaan Nikel Global 2035

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 21 Mei 2026
Eramet Proyeksikan Kenaikan Signifikan Permintaan Nikel Global 2035
mobil listrik (FOTO: NET)

JAKARTA PUSAT – Konsumsi nikel dunia untuk pembuatan baterai kendaraan listrik diprediksi meningkat hingga 1,7 juta ton pada 2035, atau tumbuh sebesar 218 persen, seiring dengan makin tingginya adopsi kendaraan ramah lingkungan secara global, menurut laporan Lestari.

Peningkatan permintaan komoditas tersebut diperkirakan akan mencakup sekitar 30 persen dari total keseluruhan permintaan nikel di pasar dunia.

"Angka ini lebih rendah dibanding yang diperkirakan orang-orang pada awal perkembangan kendaraan listrik. Saya pikir ambisi baterai berbasis nikel dulu jauh lebih tinggi, tetapi perkembangan baru baterai LFP, yaitu baterai tanpa nikel pada dasarnya mengurangi potensi pertumbuhan nikel," kata Jerome Baudelet, CEO Eramet Indonesia dalam Exclusive Media Briefing: Eramet Outlook 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).

Walaupun terdapat penyesuaian proyeksi karena munculnya baterai LFP, Indonesia tetap menjadi salah satu produsen nikel terbesar dunia dengan pertumbuhan yang sangat cepat.

Pangsa produksi nikel Indonesia di pasar global meningkat drastis dari sekitar 8 persen pada 2014 menjadi 65 persen pada 2025.

"Jadi Indonesia pada dasarnya adalah pusat kekuatan produksi nikel dunia, dan apa yang terjadi di Indonesia pada pasar nikel akan memengaruhi seluruh pasar nikel dunia," jelas Jerome Baudelet, CEO Eramet Indonesia.

Pemerintah dan pelaku industri nasional terus menggenjot hilirisasi dengan membangun fasilitas produksi baru guna menguasai 75 hingga 80 persen produksi global dalam beberapa tahun ke depan.

Transformasi teknologi pengolahan dari nickel pig iron untuk stainless steel ke teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) kini memungkinkan Indonesia menghasilkan nikel murni serta bahan kimia untuk kebutuhan industri baterai dan penerbangan.

"Indonesia memulai pengengkapannya dengan nickel pig iron dan pirometalurgi, lalu masuk ke fase kedua pengembangan dengan HPAL sekitar tiga tahun terakhir," beber Jerome Baudelet, CEO Eramet Indonesia.

Diversifikasi ekspor kini membuat material baterai seperti mixed hydroxide precipitate (MHP), matte, dan logam nikel menyumbang sekitar 30 persen perdagangan luar negeri.

"Ini perubahan besar dibanding profil produk yang diproduksi Indonesia lima tahun lalu, dan sekali lagi Indonesia merepresentasikan 65 persen produksi (nikel) dunia," imbuh Jerome Baudelet, CEO Eramet Indonesia.

Pasar komoditas ini mulai menunjukkan tanda pemulihan dari kondisi kelebihan pasokan yang sebelumnya menekan harga dan menambah inventori global selama periode 2020–2025.

Langkah pemulihan pasar tersebut didukung kebijakan Pemerintah Indonesia yang membatasi produksi bijih nikel lewat mekanisme Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta meningkatkan Harga Patokan Mineral (HPM).

"HPM telah mengubah formulanya dan pada dasarnya meningkatkan harga dasar saprolit secara signifikan, yang digunakan untuk nickel pig iron serta limonit yang digunakan untuk produksi HPAL," sebut Jerome Baudelet, CEO Eramet Indonesia.

Kebijakan penyesuaian harga patokan ini menguntungkan perusahaan tambang karena harga jual kini lebih mencerminkan nilai kandungan mineral di dalamnya.

Namun, kenaikan harga tersebut menjadi tantangan biaya bagi pabrik pengolahan berbasis HPAL yang juga harus menghadapi tingginya harga sulfur dalam produksi bahan baku baterai.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua