Eramet: Permintaan Nikel Baterai EV Global Tumbuh 218 Persen di 2035
JAKARTA – Konsumsi nikel untuk produksi baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) diproyeksikan meningkat hingga 1,7 juta ton pada tahun 2035, dengan pertumbuhan sebesar 218 persen secara global.
CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet, menyampaikan bahwa capaian ini merepresentasikan 30 persen dari total permintaan nikel dunia.
"Angka ini lebih rendah dibanding yang diperkirakan orang-orang pada awal perkembangan kendaraan listrik. Saya pikir ambisi baterai berbasis nikel dulu jauh lebih tinggi, tetapi perkembangan baru baterai LFP, yaitu baterai tanpa nikel pada dasarnya mengurangi potensi pertumbuhan nikel," kata Jerome dalam Exclusive Media Briefing: Eramet Outlook 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).
Walaupun demikian, permintaan nikel dari sektor baterai EV tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat dalam jangka panjang, sejalan dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik di dunia.
Menurut Jerome, Indonesia telah menjadi salah satu negara penyumbang produksi nikel terbesar.
Pada tahun 2014, Indonesia hanya memproduksi sekitar 8 persen dari total produksi nikel dunia, kemudian angka tersebut melonjak drastis hingga mencapai 65 persen pada tahun 2025.
Jerome memaparkan bahwa dengan kapasitas produksi baru yang terus dibangun, Indonesia diproyeksikan mampu menguasai 75–80 persen produksi nikel global dalam beberapa tahun ke depan.
"Jadi Indonesia pada dasarnya adalah pusat kekuatan produksi nikel dunia, dan apa yang terjadi di Indonesia pada pasar nikel akan memengaruhi seluruh pasar nikel dunia," jelas dia.
Jerome menuturkan bahwa industri nikel domestik telah mengalami transformasi yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, mayoritas produksi nasional berbentuk nickel pig iron (NPI) yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan stainless steel.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mulai mengimplementasikan teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk mengolah nikel murni serta zat kimia nikel yang dibutuhkan oleh industri baterai EV dan sektor penerbangan.
"Indonesia memulai pengembangannya dengan nickel pig iron dan pirometalurgi, lalu masuk ke fase kedua pengembangan dengan HPAL sekitar tiga tahun terakhir," beber Jerome.
Sebelumnya, komoditas ekspor memang didominasi oleh NPI.
Saat ini, material penunjang baterai seperti mixed hydroxide precipitate (MHP), matte, hingga logam nikel mulai diekspor dengan porsi mencapai 30 persen.
"Ini perubahan besar dibanding profil produk yang diproduksi Indonesia lima tahun lalu, dan sekali lagi Indonesia merepresentasikan 65 persen produksi (nikel) dunia," imbuh dia.
Jerome berpendapat bahwa pasar nikel global mulai menunjukkan tanda pemulihan tahun ini setelah sempat mengalami kelebihan pasokan selama lima tahun terakhir.
Sepanjang tahun 2020–2025, pasar nikel sempat dibanjiri pasokan melimpah yang mengakibatkan harga tertekan dan volume inventori meningkat di berbagai negara.
Pemerintah Indonesia melakukan pembatasan produksi bijih nikel melalui kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sekaligus menaikkan Harga Patokan Mineral (HPM).
"HPM telah mengubah formulanya dan pada dasarnya meningkatkan harga dasar saprolit secara signifikan, yang digunakan untuk nickel pig iron serta limonit yang digunakan untuk produksi HPAL," sebut dia.
Regulasi baru tersebut dinilai menguntungkan perusahaan tambang karena harga bijih kini menjadi lebih adil dan mencerminkan kadar mineral di dalamnya.
Meski begitu, kenaikan HPM menjadi tantangan bagi korporasi pengolahan, terutama pabrik berbasis HPAL yang memproduksi bahan baku baterai.
Sejumlah perusahaan HPAL kini harus menghadapi lonjakan biaya produksi akibat kenaikan harga sulfur.