MedcoEnergi Pacu Produksi Migas dan Kembangkan Energi Terbarukan

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 25 Mei 2026
MedcoEnergi Pacu Produksi Migas dan Kembangkan Energi Terbarukan
Migas dan Energi Hijau Jalan Bersama. ( Sumber : NET )

JAKARTA - Di tengah lampu kota yang tetap menyala sepanjang malam dan mesin industri yang terus berputar tanpa henti, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian banyak orang, yakni energi yang menjaga denyut ekonomi tetap hidup.

Ketika harga minyak dunia bergejolak dan transisi energi global bergerak cepat, kebutuhan akan pasokan energi yang stabil menjadi semakin penting bagi Indonesia.

Bagi sebagian pelaku industri dan masyarakat di sekitar wilayah operasi minyak dan gas (migas), kehadiran perusahaan energi nasional bukan sekadar urusan bisnis.

Aktivitas produksi minyak, gas, hingga listrik telah menjadi penggerak ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, hingga mendukung pertumbuhan usaha kecil di sekitar proyek energi.

“Dulu banyak warga di sini harus merantau untuk cari pekerjaan. Setelah aktivitas migas mulai berjalan, peluang kerja jadi lebih terbuka, baik di perusahaan maupun usaha pendukung lainnya. Warung makan, penginapan, sampai jasa transportasi ikut hidup,” ujar Rahmat, warga di sekitar wilayah operasi migas di Pulau Jawa saat dihubungi Investortrust.id, Rabu (20/5/2026).

Di Sumatra Selatan misalnya, geliat pengembangan proyek gas dan aktivitas pengeboran menghadirkan harapan baru bagi masyarakat sekitar.

Kehadiran investasi energi tidak hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi memperkuat keyakinan bahwa Indonesia masih memiliki modal besar untuk menjaga ketahanan energinya sendiri.

Analis migas dan konsultan energi Rinto Pudyantoro mengatakan sektor hulu migas memberikan dampak ekonomi luas bagi daerah, tidak hanya secara fiskal tetapi juga pada aktivitas ekonomi lokal.

Kontribusi industri ini tercermin dari dana bagi hasil (DBH) migas, penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) sektor migas, serta participating interest (PI) sebesar 10% yang melibatkan badan usaha milik daerah (BUMD).

“Multiplier effect industri hulu migas tidak hanya berhenti pada penerimaan negara, tetapi juga menjalar ke berbagai sektor, termasuk tenaga kerja lokal, infrastruktur, hingga penguatan ekonomi daerah secara keseluruhan,” kata Rinto yang juga dosen dalam acara media education The Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 belum lama ini.

Kontribusi sektor migas terhadap penerimaan negara juga tercermin dari PBB migas.

Berdasarkan data, penerimaan PBB nasional mencapai Rp 24,01 triliun pada 2022, dengan kontribusi sektor migas sebesar Rp 13,711 triliun atau lebih dari 50%.

Melihat besarnya potensi dan kontribusi sektor ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bahkan memastikan sektor hulu migas dikecualikan dari kebijakan baru pemerintah terkait penjualan hasil sumber daya alam (SDA) melalui satu pintu yang akan dijalankan lewat badan usaha milik negara (BUMN).

Menurut Bahlil, keputusan tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto setelah mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan investasi di sektor migas.

“Hari ini Bapak Presiden mengumumkan pembuatan peraturan pemerintah terkait penjualan hasil sumber daya alam satu pintu lewat BUMN. Namun, berdasarkan pendalaman dan informasi yang objektif, Presiden memutuskan bahwa untuk sektor hulu migas, aturan tersebut tidak berlaku,” ujar Bahlil saat ditemui di acara IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (20/5/2026).

Ada pepatah lama yang mengatakan, “air tenang menghanyutkan.”

Di tengah hiruk-pikuk transisi energi global, sektor migas Indonesia justru tetap menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Dari sinilah peran perusahaan energi domestik seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) atau MedcoEnergi menjadi semakin strategis.

Perusahaan energi terintegrasi Indonesia tersebut terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung target pemerintah menjaga ketahanan energi untuk mewujudkan swasembada energi.

Di saat banyak negara menghadapi ancaman krisis energi dan ketidakpastian geopolitik, Indonesia masih membutuhkan investasi migas dan mineral untuk menjaga ketahanan sekaligus mendorong swasembada energi nasional.

Ekonom AS peraih Nobel 2008 Paul Krugman pernah mengatakan bahwa produktivitas bukan segalanya, tetapi dalam jangka panjang hampir segalanya bergantung pada produktivitas.

Dalam konteks energi, kemampuan menjaga produksi migas dan memperkuat infrastruktur energi menjadi faktor penting bagi daya tahan ekonomi sebuah negara.

MedcoEnergi mencatat produksi migas sebesar 170 mboepd pada kuartal I-2026 meningkat 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Gas tetap menjadi tulang punggung bisnis perusahaan dengan kontribusi mencapai 72% dari total produksi migas.

Produksi gas bruto tercatat sebesar 1.245 mmscfd, sedangkan produksi minyak bruto mencapai 125 mbopd.

Sebagian besar produksi tersebut berasal dari aset domestik.

Dari total produksi bruto lebih 350 mboepd, sekitar 265 mboepd berasal dari Indonesia dan sisanya dari aset internasional.

Kontribusi ini menjadi penting di tengah upaya pemerintah meningkatkan lifting migas nasional.

Produksi domestik yang stabil membantu mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus menjaga neraca perdagangan dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain migas, sektor mineral juga menjadi bagian penting dalam strategi ketahanan energi nasional.

MedcoEnergi mencatat produksi tembaga sebesar 101 Mlbs dan produksi emas mencapai 136 Koz pada kuartal I-2026.

Mineral, seperti tembaga memiliki peran penting dalam pengembangan kendaraan listrik, transmisi listrik, hingga pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan (EBT).

Salah satu proyek strategis MedcoEnergi saat ini adalah pengembangan lapangan gas Sakakemang di Sumatra Selatan.

Proyek tersebut ditargetkan mulai berproduksi pada 2027 dengan harapan mencapai 120 juta standar kaki kubik gas per hari atau mmscfd.

Senior Vice President Business Support MedcoEnergi Iwan Prajogi mengatakan proyek tersebut masih berada pada tahap pengembangan aset dan perseroan tengah mempercepat persiapan teknis maupun komersial.

“Sakakemang itu adalah asset development project, jadi masih belum production. Jadi harapannya kami sekarang lagi progresif untuk proyek kami,” ujar Iwan dalam diskusi bertema “MedcoEnergi Today: Value. Focus. Growth” di sela IPA Convex 2026 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan perusahaan tengah menuntaskan milestone proyek sekaligus menyelesaikan negosiasi gas sales agreement (GSA) sebagai kontrak penjualan gas kepada pembeli.

“Tadi saya katakan kami akan onstream pada 2027,” katanya.

Perseroan juga memperkuat posisi bisnis di Sumatra Selatan melalui akuisisi tambahan di Corridor PSC dan pengembangan Sakakemang PSC.

Kepemilikan MedcoEnergi di Corridor PSC meningkat dari 46% menjadi 70% dengan tambahan produksi sekitar 25 mboepd.

Hingga kuartal I-2026, operasi Sumatra Selatan menghasilkan produksi migas bruto lebih dari 127 mboepd dengan produksi bersih di atas 80 mboepd.

Di sisi lain, proyek Nawasena masih berada pada tahap eksplorasi.

Menurut Iwan, wilayah tersebut memiliki prospek menarik karena dekat dengan fasilitas produksi eksisting MedcoEnergi yakni PSC Sampang dan PSC Madura Offshore.

Kedekatan ini membuka peluang monetisasi sumber daya migas lebih cepat karena dapat memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia.

Di tengah tuntutan global terhadap dekarbonisasi, MedcoEnergi memilih pendekatan yang menyeimbangkan investasi migas dengan energi rendah karbon.

Pendiri Tesla, Elon Musk, pernah mengatakan bahwa transisi menuju energi berkelanjutan harus dilakukan secara realistis.

“Sustainable energy is the future, but the transition must be practical,” ujarnya.

Pendekatan itu tercermin dari langkah MedcoEnergi memperluas bisnis energi bersih tanpa meninggalkan pengembangan migas sebagai sumber energi utama nasional.

Perusahaan melaporkan proyek panas bumi Ijen fase pertama berkapasitas 35 MW menuju fase 2 sehingga menjadi 70 MW dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Bali Timur 25 MWp telah mulai beroperasi.

Perseroan juga menyelesaikan ekspansi pembangkit listrik Batam ELB sebesar 109 MW dan berproses menuju 300 MW.

Medco juga melanjutkan eksplorasi panas bumi Bonjol dan dan Sumbawa Solar PV 26 MWp yang saat ini berada dalam tahap pengkajian potensi ekspansi.

Dalam bisnis ketenagalistrikan, penjualan listrik independent power producer (IPP) mencapai 1.053 GWh pada kuartal I-2026.

Sementara porsi energi terbarukan dalam bauran kapasitas pembangkit telah mencapai 26%.

Di tingkat regional, Bualuang Phase-1 di Thailand dijadwalkan onstream pada kuartal kedua 2026.

Perusahaan juga memperluas peran strategis melalui operatorship Cendramas PSC di Malaysia yang akan efektif pada September 2026.

MedcoEnergi mempertahankan target bauran energi terbarukan sebesar 30% pada 2030.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa sektor energi fosil dan energi hijau masih akan berjalan berdampingan selama masa transisi energi berlangsung.

Selain memperkuat produksi gas, MedcoEnergi juga menyiapkan proyek carbon capture and storage (CCS) untuk menekan emisi karbon dari aktivitas energi fosil.

Teknologi CCS memungkinkan emisi karbon ditangkap dan disimpan di bawah tanah sehingga tidak dilepaskan ke atmosfer.

Teknologi tersebut mulai banyak dikembangkan perusahaan energi global sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi.

Iwan mengatakan fasilitas CCS itu ditargetkan menjadi proyek CCS pertama MedcoEnergi dan mulai berjalan pada 2029.

“Jadi misalkan Sakakemang ini bagian daripada lokasinya, kami komit untuk membangun CCS. Ini akan menjadi CCS pertama MedcoEnergi, dan targetnya adalah 2029,” ujarnya.

Komitmen lingkungan MedcoEnergi juga tercermin dari penurunan emisi gas rumah kaca operasional hulu migas sebesar 30% dibandingkan tahun dasar 2019.

Emisi metana juga turun 40%.

Perusahaan memperoleh peringkat ESG AAA dari MSCI pada Maret 2026 dan masuk dalam indeks IDX LQ45 Low Carbon Leaders serta ESG Quality 45 IDX KEHATI.

Di tengah volatilitas harga minyak dan gas global, MedcoEnergi tetap menerapkan pendekatan konservatif dalam pengelolaan bisnis dan alokasi modal.

Menurut Iwan, situasi geopolitik global masih penuh ketidakpastian sehingga perusahaan memilih fokus menjaga fundamental keuangan, mengurangi utang, serta memastikan proyek berjalan disiplin.

“Kami selalu menggunakan pendekatan yang konservatif. Kami melihat hari ini situasi geopolitical, harga yang naik turun ini masih sifatnya volatile,” katanya.

Ia menambahkan perusahaan tetap menjaga kemampuan pembayaran dividen kepada pemegang saham sambil mengevaluasi peluang percepatan proyek baru apabila kondisi pasar membaik.

“Jadi intinya adalah kami take conservative approach,” ujarnya.

Di luar pengembangan energi dan mineral, MedcoEnergi juga mempercepat transformasi digital melalui strategi teknologi informasi 2022-2026.

Fokus perusahaan diarahkan pada keamanan siber, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta pembangunan fondasi data terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Perjalanan menuju swasembada energi tidak bisa ditempuh hanya dengan satu sumber daya atau satu jenis energi semata.

Migas, energi terbarukan, hingga mineral strategis akan tetap menjadi bagian dari fondasi ekonomi Indonesia dalam beberapa dekade ke depan.

Seperti peribahasa “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit,” penguatan produksi migas, pengembangan energi bersih, dan investasi jangka panjang yang dilakukan hari ini dapat menjadi pijakan penting bagi ketahanan energi Indonesia di masa depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua