JAKARTA – Harga komoditas minyak mentah melesat hingga 6 persen akibat kekhawatiran gangguan pasokan, sementara harga nikel dan timah terpantau mengalami penurunan tipis.
Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya permintaan energi global yang tidak sebanding dengan ketersediaan stok di gudang-gudang penyimpanan utama.
Hanif Faisol berpendapat, bahwa gejolak harga energi mentah yang sangat dinamis memerlukan langkah antisipasi cepat agar stabilitas harga kebutuhan dalam negeri tidak terganggu.
"Dampak El Nino ini nyata, jangan tunggu api membesar baru kita sibuk memadamkan," ujar Hanif Faisol, saat wawancara di tempat/gedung pada, Selasa (28/4/2026).
Sementara sektor energi sedang berada dalam tren penguatan, sektor logam justru menunjukkan performa yang cukup kontras di lantai bursa.
Nikel dan timah mengalami tekanan jual yang membuat nilai tukarnya terkoreksi dalam rentang tipis dibandingkan hari sebelumnya.
Para pelaku pasar mulai mengalihkan fokus investasi mereka pada komoditas yang dianggap lebih menguntungkan di tengah ancaman krisis energi.
Kondisi ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara sektor industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku logam dengan kebutuhan transportasi global.
Cadangan minyak di Amerika Serikat dilaporkan menyusut lebih banyak dari perkiraan awal para analis ekonomi.
Situasi di wilayah Timur Tengah tetap menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.
Sebagian pengamat memperkirakan bahwa harga logam akan segera melakukan rebound jika aktivitas industri di China mulai menunjukkan pemulihan signifikan.
Keputusan kebijakan moneter dari bank sentral dunia turut memberikan pengaruh besar terhadap arus modal yang masuk ke sektor komoditas strategis ini.