Perkuat Transisi Energi, CHINT Group Siap Berinvestasi di Indonesia

Pemerintah Rayu Investor. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 10 Juni 2026 | 10:12:59 WIB

JAKARTA - Pemerintah terus menjalankan berbagai upaya guna menarik minat investor serta membuka peluang ekonomi baru di Indonesia.

Kementerian Keuangan, selaku pengelola bendahara negara, turut aktif menjalankan peran tersebut.

Dalam rapat APBN yang diwakili oleh Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Industri dan Ekonomi Lingkungan, Michael Goutama, bersama Chairman CHINT Group, Nan Cunhui, serta CEO Chint Solar, Lu Chuan, pada Selasa (9/6/2026) di Kantor Kementerian Keuangan, pemerintah memaparkan kondisi APBN agar investor memahami situasi keuangan dan arah kebijakan nasional.

Michael menjelaskan rencana CHINT Group untuk berinvestasi serta berkolaborasi dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dalam pengembangan energi terbarukan di berbagai wilayah Indonesia.

Pemaparan APBN kepada pihak CHINT Group dilakukan sebagai gambaran kondisi keuangan dan rencana strategis pemerintah, baik untuk saat ini maupun masa depan.

Menurut Michael, komunikasi antara CHINT Group dengan pemerintah Indonesia telah terjalin selama kurang lebih dua tahun.

Namun, kerja sama tersebut baru terealisasi saat ini.

“CHINT Group membuat komitmen yang konkret, nanti malam tandatangan MoU. Timnya sudah dibawa ke sini, sebenarnya orang dibawa untuk langsung membuat action plan-nya, jadi bukan hanya MOU biasa,” jelas Michael kepada Kontan.

Ia merasa optimis bahwa pemaparan APBN kepada investor akan semakin meyakinkan pemodal asing untuk menanamkan modal di Indonesia.

Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi strategis antar kementerian dan lembaga agar kebijakan tetap konsisten dan menarik bagi investor.

Selain itu, investasi yang masuk diharapkan dapat berkontribusi bagi perputaran ekonomi masyarakat.

“CHINT Group juga menjejaki investasi di daerah untuk energi baru dan barukan,” sambung Michael.

CEO Chint Solar, Lu Chuan, mengungkapkan minat perusahaannya untuk memperluas investasi di Indonesia melalui pengembangan proyek energi terbarukan dan pembangunan kawasan industri berbasis energi hijau.

Lu menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi besar dalam transisi energi dari sumber konvensional menuju energi terbarukan.

Berdasarkan alasan tersebut, perusahaan yang bergerak di bidang peralatan listrik dan solusi energi pintar itu melihat peluang investasi jangka panjang di Indonesia.

"Kami melihat Indonesia sebagai negara yang sangat potensial. Saat ini Indonesia sedang menjalani transisi dari energi tradisional menuju energi terbarukan dan kami ingin menjadi bagian dari proses tersebut," ungkap Lu.

Menurutnya, CHINT Group selama ini telah berpartisipasi dalam sejumlah proyek kelistrikan di Indonesia dan kini sedang menjajaki peluang pengembangan proyek energi terbarukan skala besar.

Salah satu rencana yang tengah dikaji adalah pembangunan pembangkit listrik swasta (IPP) berbasis energi hijau yang terhubung dengan pasar Singapura melalui jaringan kabel bawah laut.

Selain sektor energi, CHINT Group juga melihat peluang pengembangan kawasan perkotaan berbasis industri dan energi bersih.

Lu menyebut perusahaannya memiliki pengalaman membangun solusi energi surya untuk jutaan rumah di berbagai kota di China.

Berbekal pengalaman tersebut, CHINT Group berencana mengembangkan proyek percontohan di Indonesia yang mengintegrasikan energi terbarukan dengan pengembangan ekonomi lokal.

Model ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong industrialisasi di daerah.

"Kami akan melakukan penelitian dan mencoba memulai dengan beberapa proyek pilot agar bisa membangun model basis yang berkelanjutan di Indonesia. Termasuk menggunakan renewable untuk membantu rakyat mendapatkan lebih banyak pekerjaan dan meningkatkan pendapatan," lanjut Lu.

Ia memaparkan bahwa perusahaan menargetkan studi kelayakan serta proposal teknis maupun finansial untuk proyek awal dapat diselesaikan pada semester II tahun ini.

Selanjutnya, hasil kajian tersebut akan menjadi dasar pelaksanaan proyek percontohan di sejumlah daerah.

Dalam jangka panjang, CHINT Group menyiapkan investasi senilai USD6-7 juta untuk 10 tahun ke depan.

Perusahaan juga membuka peluang membangun fasilitas manufaktur modul surya serta komponen pendukung lainnya di Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan proyek energi bersih di berbagai wilayah.

Menurut Lu, keberadaan fasilitas produksi lokal akan memperkuat rantai pasok sekaligus mendukung pengembangan industri nasional berbasis energi terbarukan.

Di sisi lain, CHINT Group menilai Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor China di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Faktor jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, serta komitmen pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan menjadi daya tarik utama.

"Kami cukup percaya diri terhadap prospek investasi di Indonesia. Potensi ekonominya besar dan arah kebijakan energi terbarukan yang sedang dikembangkan pemerintah memberikan keyakinan bagi investor," ujarnya.

Meski begitu, Lu berharap pemerintah dapat menjaga konsistensi kebijakan, terutama yang berkaitan dengan insentif investasi dan pengembangan energi terbarukan.

Menurutnya, kepastian regulasi dalam jangka waktu 5 hingga 10 tahun akan menjadi faktor penting bagi investor dalam merealisasikan proyek berskala besar.

“Kami berharap kebijakan ini bisa lebih berjalan bersamaan dengan investasi yang akan datang, terutama untuk kebijakan tax. CHINT Group Group berharap untuk stabilitas kebijakan ini, khususnya kebijakan energi terbarukan bisa bertahan selama 5-10 tahun,” tegas Lu.

Reporter: Talita Malinda