Dorong Energi Terbarukan, Senator NTB Fokus pada Ekonomi Hijau

Senator Mirah M Fahmid. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 10 Juni 2026 | 12:49:06 WIB

JAKARTA - Pengembangan energi terbarukan kini menjadi fokus utama di banyak negara, termasuk Indonesia.

Selain dinilai mampu menekan angka emisi karbon serta menjaga kelestarian lingkungan, energi bersih pun dipercaya dapat memperkuat ketahanan ekonomi warga melalui sumber energi yang lebih berkelanjutan dan tidak bergantung pada gejolak pasar global.

Di tengah agenda Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan, Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah M Fahmid, berpendapat bahwa transisi energi harus dilihat dari sudut pandang manfaat ekonominya.

"Jadi green energy atau blue energy atau apapun namanya itu ya. Kalau blue energy itu kan lebih ke kelautan ya. Kalau green energy pokoknya kami berusaha mengubah yang dari fosil menjadi energi-energi terbarukan lainnya. Itu sama aja konsepnya dengan tadi Net Zero Emission (NZE)," ujar Mirah M Fahmid dikutip dari sumbernya, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, transisi energi dilakukan untuk menekan ketergantungan terhadap energi fosil yang menghasilkan emisi karbon tinggi dan berpotensi memberi dampak buruk bagi lingkungan.

Oleh karena itu, penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan harus terus dioptimalkan.

Ia menilai manfaat energi terbarukan tidak sekadar dirasakan dari sisi ekologi, tetapi juga berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat.

Ketergantungan pada energi fosil, sebutnya, menjadikan masyarakat rentan terhadap hambatan pasokan maupun kenaikan harga akibat faktor eksternal.

"Kalau kami masih bergantung terhadap energi fosil itu. So misalnya kayak nelayan misalnya tadi butuh diesel. Tapi kalau misalnya stok dieselnya nggak ada. Akhirnya harganya jadi tinggi karena stoknya menipis. Akhirnya nelayan jadi tidak mampu membeli. Akhirnya nanti endingnya adalah dia tidak mampu melaut. Akhirnya tidak mampu memberi makan keluarganya dan segala macam," katanya.

Mirah M Fahmid menjelaskan bahwa gejolak pasokan energi global mampu memicu efek berantai hingga ke level rumah tangga.

Kenaikan harga bahan bakar, contohnya, berisiko meningkatkan biaya produksi dan membatasi kemampuan masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi harian.

"Jadi banyak hal-hal itu akhirnya dari hal besar, yang rasa-rasanya kok kayaknya ini nggak langsung nyambung ke diri kami. But anyway itu sangat berimpak bahkan di level sangat mikro seperti itu, level kepala keluarga. Apalagi kalau misalnya harga dieselnya naik, bahan bakarnya naik, yang melaut jadinya susah. Jadi banyak sekali multiplier effect yang negatif jadinya yang terjadi," ujarnya.

Maka dari itu, ia mendorong pengembangan energi bersih yang lebih terjangkau serta berkelanjutan.

Salah satu contohnya lewat pemanfaatan energi surya yang diintegrasikan dengan teknologi penyimpanan energi agar bisa dimanfaatkan secara optimal.

"Jadi energi yang bersih misalnya kami punya pembangkit listrik tenaga surya yang apung misalnya. Jadi kami bikin dia terapung kecil aja gitu ya. Tapi kalau tenaga surya itu kan harus diimbangi dengan baterai. Karena matahari hanya mampu memberikan energinya hanya sekian jam yang optimal. Berarti itu kan kami harus storage, kami harus simpan energi itu agar bisa dipakai di malam harinya," jelas Mirah M Fahmid.

Menurutnya, kemajuan teknologi penyimpanan energi membuka peluang pemanfaatan energi terbarukan yang lebih luas untuk masyarakat.

Ke depan, teknologi ini bahkan berpotensi membantu kelompok masyarakat seperti nelayan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

"Nanti kami harus beli baterainya. Nanti baterainya kan ada yang ukurannya kecil. Mungkin nanti ada teknologi apa, akhirnya nelayan melaut pakai sumber energinya dari baterai. Jadi banyak peluang yang bisa dikembangkan dari energi bersih ini," katanya.

Selain mendorong pengembangan energi terbarukan, Mirah M Fahmid juga aktif mengawal konsep transisi energi berkeadilan yang memperhatikan dampak ekonomi daerah serta kesiapan masyarakat menghadapi perubahan menuju ekonomi hijau.

Ia pun mendorong pemerintah daerah, khususnya di NTB, untuk bersiap dalam pengembangan green jobs atau lapangan kerja hijau.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa generasi muda perlu dibekali keterampilan relevan agar mampu mengambil peluang dalam industri energi terbarukan maupun sektor ekonomi berkelanjutan lainnya.

Dengan begitu, transisi energi tidak hanya berkontribusi pada penurunan emisi, tetapi juga menciptakan kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat.

Kiprah Mirah M Fahmid menjadi salah satu potret kontribusi perempuan Indonesia dalam mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui sektor energi.

Melalui Sekar Agni Negeri, detikcom mengangkat kisah perempuan-perempuan inspiratif dari berbagai bidang yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa.

Program ini hadir melalui wawancara khusus di detikPagi dan detikSore yang dapat disaksikan secara live streaming maupun di platform digital detikcom.

Reporter: Talita Malinda