Human Roots Ubah Minyak Jelantah Jadi Energi Terbarukan
MALANG - Empat perempuan muda yakni Gusni Amalia Vianti, Nilam Permatasari, Lailia Yuslichati Rahmadani, dan Alfatiha Dinda Meiril memulai sebuah gerakan dari rasa penasaran yang sederhana.
Mereka turun langsung menyusuri wilayah Malang Raya, mulai dari rumah warga, pedagang gorengan pinggir jalan, hingga pelaku UMKM.
Setelah mengunjungi lebih dari 50 titik, permasalahan utama yang ditemukan adalah pembuangan akhir minyak jelantah.
“Masih banyak yang dibuang ke sungai atau ke tanah kosong. Kami melihat ini merasa cukup resah,” cerita Amalia.
Dari temuan tersebut, mereka terkejut karena sebagian masyarakat justru mengendapkan minyak bekas, lalu mengolahnya kembali sebagai campuran sambal.
“Padahal kandungannya (minyak jelantah, red) sudah tidak aman kalau dipakai terus-menerus,” imbuhnya.
Survei tersebut bukan perjalanan yang mudah, karena mereka sempat dicurigai sebagai petugas pemerintah yang sedang melakukan inspeksi mendadak, bahkan sempat ditolak dan dibentak oleh warga.
Namun, dari penolakan tersebut, keyakinan mereka justru tumbuh karena sadar bahwa masalah minyak jelantah berkaitan dengan edukasi, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.
Pada Oktober 2025, mereka mendirikan Human Roots Indonesia, sebuah organisasi nirlaba untuk memberdayakan masyarakat melalui pengelolaan minyak jelantah.
“Masyarakat cukup mengumpulkan minyak bekas pakai, lalu ditukarkan menjadi uang tunai. Setiap kilogram minyak jelantah dihargai Rp 6 ribu hingga Rp 6,5 ribu,” jelasnya.
Minyak tersebut kemudian disalurkan ke perusahaan yang mengolahnya menjadi energi terbarukan.
“Awalnya yang terkumpul bahkan tidak sampai 10 kilogram,” kenang Amalia sambil tertawa kecil.
Kini jumlahnya melonjak drastis, di mana dalam seminggu mereka mampu menghimpun 700 kilogram hingga 1,5 ton minyak jelantah.
Perjalanan itu dibangun secara perlahan dari rumah ke rumah, dibantu enam mahasiswa sukarelawan, hingga membentuk jaringan yang mencapai 75 kelompok masyarakat.
Mulai dari rumah tangga, UMKM, kelompok proklim, hingga perusahaan besar seperti PTPN kini ikut menjadi mitra, dengan jangkauan wilayah yang meluas hingga Kabupaten Malang.
Setiap akhir pekan, mereka berkeliling menjemput minyak jelantah dari para mitra tanpa mengenal lelah, meskipun keempatnya memiliki pekerjaan utama masing-masing.
“Lelah itu pasti ada. Tapi ada kepuasan yang sulit dijelaskan setiap melihat warga merasa terbantu,” sebut perempuan berusia 24 tahun itu.
Ia masih mengingat cerita seorang temannya yang begitu bahagia setelah memperoleh Rp 50 ribu dari hasil menukarkan minyak jelantah.
Ini menjadi semangat baru bagi Nilam dan rekan-rekannya untuk menjalankan program tersebut.
“Katanya uangnya langsung dipakai belanja di minimarket. Manfaatnya bisa dirasakan langsung,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi mereka, jumlah tersebut menjadi bukti nyata bahwa limbah rumah tangga ternyata memiliki nilai ekonomi.
Tak sedikit pula warga yang akhirnya mulai mengurangi penggunaan minyak goreng demi kesehatan sekaligus agar tidak kebingungan dalam membuang limbah.
Di tengah fluktuasi harga di pasaran, Human Roots Indonesia tetap mempertahankan harga stabil bagi masyarakat, bahkan saat harga pasar sempat anjlok ke angka Rp 3 ribu per kilogram.
“Kami ingin masyarakat tetap semangat mengumpulkan, bukan malah kembali membuang sembarangan,” tegas Amalia.
Bagi mereka, gerakan ini bukan sekadar mengejar keuntungan dari minyak bekas, melainkan tentang mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah, lingkungan, dan nilai-nilai kecil yang sering diabaikan.