Bidik 100 GW PLTS, Indonesia-China Tingkatkan Kerja Sama Energi

Agus Riyadi. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:59:21 WIB

JAKARTA - Perusahaan dan pelaku industri energi asal China membidik peluang pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) di Indonesia seiring ambisi pemerintah mempercepat transisi menuju energi bersih dan mencapai target net zero emission.

Peluang investasi PLTS 100 GW tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam EESA Summit Indonesia 2026.

Forum ini mempertemukan pemerintah, BUMN, investor, serta perusahaan teknologi energi dari Indonesia dan China untuk memperkuat kerja sama di sektor energi terbarukan dan penyimpanan energi.

COO Seven Event Agus Riyadi mengungkapkan, EESA Summit menjadi wadah strategis untuk mempererat kolaborasi Indonesia dan China dalam pengembangan teknologi penyimpanan energi yang dibutuhkan untuk mendukung integrasi energi terbarukan.

"Kami berharap sinergi yang kuat antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya melalui pemanfaatan inovasi teknologi penyimpanan energi, dapat mempercepat pencapaian target transisi energi bersih serta mendukung ketahanan energi nasional yang andal dan berkelanjutan," ujar Agus dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Menurut Agus, pengembangan PLTS skala besar sesuai peta jalan nasional yang menargetkan kapasitas hingga 100 GW membutuhkan dukungan sistem penyimpanan energi dan jaringan listrik yang modern agar pasokan listrik tetap stabil meski bergantung pada kondisi cuaca.

Dalam forum itu, sejumlah perusahaan teknologi energi asal China disebut menawarkan berbagai solusi penyimpanan energi dan sistem "microgrid" yang dinilai cocok diterapkan di wilayah kepulauan Indonesia, termasuk daerah terpencil dan kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Pembahasan juga menyoroti pentingnya pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam pengembangan industri energi nasional.

Pemerintah mendorong kerja sama investasi dan pembentukan usaha patungan (joint venture) untuk mendorong transfer teknologi sekaligus memperkuat industri dalam negeri.

Selain itu, pemerintah mengungkapkan target pembangunan program Listrik Desa (Lisdes) di 2.065 lokasi pada 2026 guna memperluas akses listrik di berbagai wilayah Indonesia, khususnya kawasan yang belum terjangkau jaringan listrik secara optimal.

Sekretaris Jenderal EESA, Rene Duan menilai Indonesia merupakan salah satu pasar energi bersih paling potensial di kawasan Asia Tenggara.

Menurutnya, kolaborasi Indonesia dan China tidak hanya membuka peluang investasi baru, tetapi juga mendukung pembangunan sistem kelistrikan yang lebih andal dan berkelanjutan.

"Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan energi bersih. Melalui EESA Summit Indonesia ini, kami berkomitmen untuk terus menjadi jembatan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia sehingga dapat mewujudkan sistem energi masa depan yang andal dan ramah lingkungan," ujar Rene.

Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi penyimpanan energi dari China diharapkan dapat menjadi solusi strategis untuk mendukung pengembangan PLTS hingga 100 GW sekaligus memperkuat keandalan pasokan listrik bersih di seluruh wilayah Indonesia.

Reporter: Talita Malinda