Guru Besar Baru UMM Tawarkan Solusi Energi hingga Deteksi Anemia
MALANG - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengukuhkan empat Guru Besar baru UMM di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III pada Kamis, 11 Juni 2026.
Pengukuhan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin.
Pengukuhan guru besar baru UMM ini sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan universitas dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif bagi kemaslahatan masyarakat luas serta kemandirian bangsa.
Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan hasil riset mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global.
Ia menyampaikan, metode estimasi hidrologi yang presisi menggunakan data historis sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional demi mendukung kemandirian sebuah negara.
“Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto.
Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. di bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan sebuah terobosan teknologi deteksi dini gejala anemia non-invasif tanpa menggunakan jarum suntik.
Ia menjelaskan, inovasi mutakhir tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien.
Yang langsung dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan secara instan.
“Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tutur Lailis.
Sementara itu Prof. Dr. Machmud Effendy, M.Eng. menyoroti urgensi transisi energi nasional melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan guna mencapai kedaulatan energi yang mandiri.
Ia memaparkan, ketergantungan yang terlampau tinggi terhadap pasokan energi fosil konvensional akan memicu penurunan cadangan energi global serta mengancam kesetabilan ekonomi makro nasional.
“Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun. Juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud.
Selanjutnya, Prof. Ir. Henik Sukorini, MP, Ph.D, IPM. dari bidang Fitopatologi menekankan pentingnya beralih ke sistem pengendalian hayati, sehingga memulihkan kerusakan tanah tropis akibat paparan zat kimia pertanian yang berlebihan.
Ia memperingatkan, ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis telah merusak mikroorganisme tanah dan mengancam keamanan pangan jangka panjang.
“Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit). Sehingga perlu seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kami yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik.
Sementara Rektor UMM Nazaruddin Malik menyampaikan, penambahan guru besar baru UMM ini memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak peradaban.
“Keempat orasi ilmiah guru besar ini mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Rektor Nazar.
Pengukuhan guru besar baru UMM ini mengharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial akademik tahunan di lingkungan kampus.
Kehadiran para guru besar baru UMM harus menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menghidupkan ekosistem riset yang membumi.