Strategi Ekspansi BREN Menuju Kapasitas Energi Terbarukan 2,8 GW

Aktivitas operasional Barito Renewables Energy (BREN). (Foto: BREN)
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 17 Juni 2026 | 09:56:30 WIB

JAKARTA – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berada pada posisi strategis untuk menjadi salah satu penerima manfaat utama dari agenda transisi energi Indonesia.

Prospek pertumbuhan BREN juga didukung oleh rencana ekspansi yang agresif.

Perusahaan energi terbarukan milik konglomerat Prajogo Pangestu itu merupakan salah satu produsen energi panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas terpasang sebesar 910 megawatt (MW).

“Barito Renewables Energy (BREN) telah menyiapkan peta jalan pertumbuhan yang jelas untuk meningkatkan kapasitas pembangkitnya secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang,” tulis analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti dalam ulasannya, Senin (15/6/2026).

Untuk energi panas bumi, BREN menargetkan kapasitas mencapai 1 GW pada 2026.

Kemudian, meningkat menjadi 1.905 MW dalam skenario dasar (base case) pada 2032.

Kapasitas berpotensi mencapai 2.430 MW dalam skenario optimistis (upside case) pada 2032.

“Target tersebut berarti lebih dari dua kali lipat dibandingkan kapasitas panas bumi saat ini yang sebesar 910 MW,” ungkap Atikah.

Adapun penambahan kapasitas dalam jangka pendek sebesar 18 MW pada 2025 dan 77 MW pada 2026 sudah dimulai.

Sedangkan sebagian besar proyek pengembangan baru dengan kapasitas sekitar 900-1.425 MW dijadwalkan berlangsung pada 2027-2032.

Di segmen energi angin, BREN menargetkan kapasitasnya meningkat dari 79 MW saat ini menjadi 398 MW pada 2032.

Penambahan terbesar direncanakan terjadi pada 2028 dengan kapasitas sekitar 220 MW.

Secara keseluruhan, total kapasitas energi terbarukan BREN diproyeksikan mencapai 2,3-2,8 GW pada 2032.

Ini memperkuat posisi Barito Renewables Energy sebagai salah satu platform energi terbarukan independen terbesar di Indonesia.

Sementara itu, agenda transisi energi Indonesia menjadi landasan kuat bagi pertumbuhan jangka panjang BREN.

Melalui RUPTL, pemerintah telah menetapkan peta jalan yang jelas terkait komposisi pembangkitan listrik nasional hingga tahun 2034.

Dalam rencana tersebut, kontribusi energi baru dan terbarukan (EBT) ditargetkan meningkat dari 15,9% pada 2025 menjadi 34,3% pada 2034.

“Di dalam kelompok EBT tersebut, energi panas bumi diproyeksikan menjadi kontributor terbesar kedua dengan porsi 28%,” jelas Atikah.

Target tersebut menegaskan pentingnya peran energi panas bumi dalam strategi pengurangan emisi karbon Indonesia, sekaligus memperkuat posisi perusahaan-perusahaan yang telah memiliki aset panas bumi skala besar seperti BREN.

Dengan dukungan kebijakan yang kuat tersebut, BREN diperkirakan menjadi salah satu penerima manfaat utama secara langsung dan berkelanjutan.

Pada kuartal I-2026, BREN mencatatkan kinerja yang solid.

Pendapatan mencapai US$ 165,1 juta atau naik 9,8% yoy.

Laba bersih sebesar US$ 43 juta, meningkat 25,6% yoy.

Reporter: Talita Malinda