Respons Chery Terkait Rencana Peningkatan Subsidi EV Nikel

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Rabu, 20 Mei 2026
Respons Chery Terkait Rencana Peningkatan Subsidi EV Nikel
BYD. Foto: Pradita Utama. ( Sumber : NET )

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya menyampaikan bahwa insentif untuk mobil listrik yang berbasis baterai nikel bakal ditingkatkan.

Pernyataan ini memicu rasa penasaran mengenai respons dari Chery, mengingat mayoritas kendaraan listrik mereka mengandalkan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP).

Sebagai salah satu produsen utama mobil listrik asal China di pasar domestik, Chery Group Indonesia kini tengah mencermati regulasi final yang akan diterbitkan pemerintah.

“Kami belum ada aturan fix. Masih belum punya aturan fix. Kami juga masih follow up, looking closely, kalau tim kami juga masih analisis,” ujar Zeng Shuo, President Director Chery Group Indonesia di Jakarta Barat, Senin (18/5/2026).

“Tapi sekarang masih belum kabar ada fix, jadi kami masih tunggu update juga,” tambah dia.

Berdasarkan kabar sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya mengungkapkan bahwa pihak pemerintah sedang merumuskan formula baru terkait pemberian insentif.

Lewat skema teranyar ini, kendaraan listrik yang mengoptimalkan program hilirisasi nikel di dalam negeri—sebagai salah satu komoditas andalan Indonesia—akan memperoleh guyuran subsidi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan yang memakai jenis baterai lain.

“Itu untuk yang utamanya EV. Bukan hybrid. Jadi yang baterainya berdasarkan nikel dan non-nikel akan berbeda skemanya. Tapi yang itu nanti (dijelaskan) Menteri Perindustrian,” ujar Menkeu Purbaya.

“Kenapa saya pakai nikel yang besar subsidinya, karena supaya baterai kami kepakai,” jelas Purbaya.

Kebijakan tersebut sekaligus menjadi langkah taktis pemerintah demi mematahkan keraguan dari pihak luar negeri terkait keberlanjutan industri baterai di tanah air.

“Dulu saya baca di Economist, judulnya apa? Mimpi Indonesia menguasai dunia baterai hilang. Karena China pakai bukan nikel, kami balik sekarang, nikelnya kami pakai, biar punya kami nikelnya bisa kepakai, dan hilirisasi teknologi baterainya berjalan,” tegasnya.

Mengenai peluang melakukan perombakan spesifikasi kendaraan ke arah baterai nikel, Chery memilih untuk mengambil keputusan strategis kelak setelah ada kepastian payung hukum serta rincian besaran insentif yang resmi dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan bersama Kementerian Perindustrian.

“Nanti harusnya ada informasi lebih resmi dan lebih jelas, kami baru bisa membahas untuk hal ini,” kata Zeng Shuo.

Hingga saat ini, Chery tetap memperlihatkan keseriusan investasi mereka di tanah air lewat aktivitas perakitan kendaraan secara lokal dengan metode completely knocked down (CKD).

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua