Energi Bersih Dinilai Kebal Guncangan Selat Hormuz
JAKARTA - Bloomberg, Konflik di Iran memicu momentum baru bagi percepatan transisi menuju ekonomi rendah karbon karena energi terbarukan dinilai aman dari guncangan harga di masa mendatang, berdasarkan pandangan kolektif para pimpinan perusahaan dan bankir senior.
Sekretariat Komisi Transisi Energi, yang beranggotakan para eksekutif dari ArcelorMittal SA, HSBC Holdings Plc, dan Shell Plc, menjelaskan dalam laporan terbarunya bahwa krisis di Timur Tengah saat ini mempertegas
“kerentanan struktural dalam sistem energi global: ketergantungan yang besar pada pasokan bahan bakar fosil yang terkonsentrasi secara geografis dan jalur transit kritis.” Sebaliknya, “sistem energi bersih secara struktural kebal terhadap jenis guncangan ini,” ungkap kelompok tersebut.
ETC, yang dipimpin bersama oleh mantan regulator keuangan Kota London Adair Turner, masuk dalam deretan pihak yang menilai bahwa konflik di Iran pada akhirnya justru memperkuat urgensi pemanfaatan energi terbarukan.
Krisis tersebut, yang sempat mengganggu pasokan minyak dan memicu lonjakan harga bahan bakar fosil, telah membuka peluang bagi arus investasi baru karena pemerintah di berbagai negara berupaya memperkuat ketahanan energi mereka.
“Hampir setiap negara di dunia dapat mencapai kemandirian energi melalui listrik terbarukan dengan cara yang tidak mungkin dicapai melalui bahan bakar fosil,” kata Turner dalam wawancara.
“Pasokan bahan bakar fosil sangat tidak merata di seluruh dunia, sehingga ada beberapa negara yang mendapat keuntungan besar dari bahan bakar fosil, sementara yang lain menjadi importir besar.”
Sistem energi bersih “mengubah struktur fisik dan ekonomi pasokan energi,” membuatnya lebih tangguh daripada alternatif bahan bakar fosil, jelas ETC.
Ketika sistem minyak dan gas “bergantung pada aliran komoditas yang diekstraksi, diperdagangkan, dan diangkut secara terus menerus,” sistem yang dikembangkan berbasis energi hijau justru bertumpu pada “aset modal terpasang sekali pakai” seperti panel surya, turbin angin, dan baterai yang, setelah terpasang, mampu memproduksi energi selama bertahun-tahun atau bahkan dekade.
Pada sektor energi bersih, sebanyak 90% investasi modal dialokasikan di awal, sehingga batasan dampak guncangan harga hanya memengaruhi aset yang memang perlu diganti atau diperluas, papar ETC.
“Energi terbarukan menciptakan sekelompok aset modal, yang setelah dimiliki, tidak rentan terhadap pemutusan jalur pipa oleh pihak lain atau pengalihan LNG ke tempat lain karena mendapat tawaran yang lebih baik,” kata Turner.
“Perbedaan utama” antara guncangan saat ini dan krisis energi terdahulu adalah “ketersediaan alternatif yang siap diterapkan” yang sekarang memiliki biaya kompetitif serta skala yang cukup besar untuk menantang dominasi bahan bakar fosil, menurut ETC. Merosotnya harga energi angin, surya, dan baterai beberapa tahun belakangan “memungkinkan respons terhadap krisis saat ini bisa lebih kuat” dalam bermigrasi dari minyak dan gas, tambah kelompok tersebut.
Alasan untuk melakukan transisi tersebut dinilai sangat kuat bagi ekonomi Asia yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan energi yang melewati Selat Hormuz, ungkap ETC. Imbas krisis energi saat ini dirasakan “paling parah” di Asia, di mana kelangkaan bahan bakar dan lonjakan harga menghambat sektor transportasi, aktivitas industri, ketersediaan pangan langsung, hingga penggunaan pupuk, merujuk pada laporan itu.
“Tenaga surya sangat murah, baterai sangat murah, dan kendaraan listrik semakin murah, sehingga ini adalah krisis energi pertama di mana orang-orang berkata, ‘bukan kah ada alternatifnya?’” kata Turner.