Dorong TKDN, Jereh Global Gandeng Industri Lokal Sektor Migas
JAKARTA - Jereh Global menegaskan dedikasinya dalam memperkuat infrastruktur serta teknologi pada sektor minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.
Perusahaan pemasok mesin kompresor dan teknologi gas ini juga terus memacu peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dengan berkolaborasi bersama industri lokal.
General Manager Southeast Asia Jereh Global, Wesley Liu, menyebutkan pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus menggalakkan penggunaan konten lokal pada berbagai proyek energi nasional.
Baginya, regulasi TKDN merupakan elemen krusial dalam memajukan industri migas di tanah air.
“Untuk produk seperti gas compressor memang membutuhkan local content. Karena itu kami mendukung perusahaan lokal untuk membangun kemampuan fabrikasi di Indonesia,” ujar Wesley dalam siaran wawancaranya, dikutip Minggu (24/5/2026)
Ia memaparkan bahwa hingga saat ini Jereh telah memasok lebih dari 30 unit kompresor gas di Indonesia.
Pada sejumlah proyek yang mewajibkan pemenuhan TKDN, perusahaan bermitra dengan pihak lokal untuk memproduksi beberapa komponen seperti scrubber dan air cooler.
Menurut Wesley, Jereh memberikan dukungan desain serta rekayasa, sementara kegiatan fabrikasi dilaksanakan bersama mitra lokal supaya proyek dapat memenuhi standar sertifikasi TKDN.
“Kolaborasi dengan partner lokal menjadi bagian penting agar target TKDN bisa tercapai,” katanya.
Di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu, Wesley berpendapat bahwa investasi hulu migas di Indonesia masih memiliki momentum kuat pada tahun ini.
Konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dinilai membuat kebutuhan untuk meningkatkan produksi migas nasional menjadi kian mendesak.
Ia menuturkan bahwa kebutuhan energi dalam negeri Indonesia masih sangat tinggi, sementara produksi minyak dan gas saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar domestik.
“Banyak perusahaan migas, bukan hanya Pertamina, meningkatkan pengeboran sumur gas baru. Ketika jumlah sumur bertambah, kebutuhan gas processing plant juga meningkat,” ujarnya.
Jereh sendiri menyatakan mampu menyediakan fasilitas pengolahan gas secara terintegrasi, mulai dari penghilangan air (water removal) hingga penghilangan CO2 (CO2 removal).
Saat ini, perusahaan sedang mengerjakan beberapa proyek pengolahan gas di Indonesia.
Meski begitu, Wesley mengakui bahwa industri penunjang migas saat ini menghadapi hambatan besar akibat ketidakpastian ekonomi dunia dan gangguan pada rantai pasok internasional.
Peningkatan harga bahan baku serta perubahan tarif impor menjadi kendala utama bagi perusahaan.
Ia menerangkan bahwa beberapa komponen utama produk Jereh, seperti mesin gas dan transmisi, masih didatangkan dari Amerika Serikat.
Ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan AS mengakibatkan biaya impor mengalami kenaikan yang signifikan.
“Biaya bahan baku naik cukup besar dan perubahan import duty juga menjadi tantangan besar bagi bisnis kami di Indonesia,” katanya.
Selain faktor rantai pasok, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun turut menekan industri.
Walau demikian, Jereh berupaya memberikan fleksibilitas pembayaran kepada para pelanggan di Indonesia.
“Sekarang kami juga bisa menerima pembayaran langsung menggunakan RMB sehingga tidak harus memakai dolar AS,” ujar Wesley.
Di sisi lain, Jereh mulai memperlebar fokus usahanya ke sektor energi bersih seiring dengan meningkatnya dorongan global terhadap upaya dekarbonisasi.
Salah satu yang kini dikembangkan perusahaan adalah teknologi daur ulang baterai kendaraan listrik atau EV battery recycle.
Wesley menilai Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam industri tersebut mengingat pertumbuhan kendaraan listrik yang terus meningkat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.
“Dalam lima hingga enam tahun ke depan, kebutuhan pengolahan baterai kendaraan listrik bekas akan semakin besar. Karena itu kami mulai mengembangkan teknologi EV battery recycle,” jelasnya.
Saat ini Jereh disebut tengah menjajaki diskusi potensial dengan sejumlah perusahaan besar seperti LG, SK Group, dan Samsung terkait peluang pengembangan fasilitas daur ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Menurut Wesley, pengembangan industri tersebut berpotensi menjadi peluang bisnis baru sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional di masa mendatang.