ITB dan DEN Sinergikan Langkah Wujudkan Kemandirian Energi

Indonesia Menuju Kemandirian Energi Nasional. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 20 Mei 2026 | 11:00:53 WIB

BANDUNG - Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB menyelenggarakan Sarasehan Energi di Auditorium Lantai 8 Gedung PAU, Kampus Ganesha ITB, pada Selasa (12/5/2026).

Kegiatan ini menjadi wadah sinergi antara pihak pemerintah, akademisi, dan industri untuk mendiskusikan arah transisi energi di Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Anggota Dewan Energi Nasional periode 2026–2030, Dr. Ir. Satya Widya Yudha, M.Sc., Ph.D., memaparkan arah kebijakan energi nasional yang berlandaskan pada Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 sebagai dasar menuju ketahanan serta kemandirian energi.

Ia menjelaskan bahwa subsektor minyak dan gas (migas) nasional masih menghadapi beragam kendala, mulai dari keterbatasan cadangan, penurunan produksi, ketergantungan impor, hingga disparitas harga yang membebani subsidi dan ekonomi.

Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat ketahanan energi, salah satunya adalah peningkatan kapasitas infrastruktur melalui efisiensi kilang dengan teknologi modern.

Pemerintah juga mendorong percepatan substitusi LPG lewat pembangunan jaringan gas rumah tangga, transformasi subsidi berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, serta diversifikasi energi melalui pemanfaatan kompor listrik dan pengembangan dimethyl ether.

Upaya penguatan ketahanan energi dilakukan melalui penurunan disparitas harga, pengembangan cadangan nasional, serta akselerasi energi baru terbarukan (EBT) guna mendukung swasembada energi.

Dr. Satya mengungkapkan bahwa Indonesia telah menyiapkan langkah antisipatif terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah, mulai dari pembatasan konsumsi hingga deklarasi kondisi darurat energi jika diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan nasional.

Sementara itu, Dekan FTI ITB, Prof. Ir. Tirto Prakoso, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa sekitar 50% kebutuhan energi nasional masih bergantung pada impor, meski Indonesia sudah mengoptimalkan biodiesel berbasis sawit dan batu bara.

“Indonesia terkena dampak seperti harga BBM naik, tetapi saya yakin dampaknya tidak akan semasif negara lain yang pasokan energinya sepenuhnya bergantung pada impor energi,” ujar Prof. Tirto.

Prof. Tirto menegaskan komitmen ITB dalam riset transisi dan diversifikasi energi, seperti pengembangan biodiesel dari sawit serta Katalis Merah Putih oleh Teknik Kimia ITB untuk kebutuhan industri.

Kontribusi serupa dilakukan oleh Teknik Fisika melalui teknologi solar photovoltaic dan Teknik Industri melalui optimasi keekonomian energi skala industri.

“Sumber daya manusia sudah memadai dan siap untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia. Namun, tantangannya terdapat pada aspek penerapan, terutama terkait harga energi di pasaran,” jelas Prof. Tirto.

Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mewujudkan ketahanan energi melalui kekayaan sumber daya terbarukan dan kesiapan SDM yang kompeten dalam mendukung kolaborasi lintas sektor.

Reporter: Talita Malinda