Lewat Pirolisis, Pemerintah Sulap Sampah Jadi BBM Terbarukan
JAKARTA - Pemerintah saat ini tengah mendorong pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) terbarukan melalui metode pirolisis.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mempercepat pengelolaan sampah sekaligus mendukung agenda kemandirian energi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari mandat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang sebelumnya memfokuskan pengolahan sampah menjadi energi listrik.
“Kalau sebelumnya sampah diolah menjadi energi listrik, sekarang kami dorong timbunan sampah di TPA diubah menjadi BBM terbarukan melalui teknologi pirolisis,” ujar Zulkifli Hasan, usai rapat koordinasi terbatas di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).
Ketua Umum PAN tersebut menuturkan bahwa pengembangan teknologi pirolisis dilaksanakan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
Sebagai informasi, teknologi pirolisis adalah metode daur ulang sampah melalui proses dekomposisi pada suhu tinggi antara 300–800 derajat Celsius di dalam ruang tertutup.
“Artinya, pengolahan sampah tidak lagi dilihat sebagai beban, Saudara-saudara, tetapi sebagai sumber energi dan bagian dari cita-cita kemandirian energi nasional,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah telah menyepakati proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang melibatkan Danantara sebagai pelaksana.
Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap akhir seleksi di empat kota besar.
Direktur Investasi PT Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menyampaikan bahwa pengumuman pemenang tender proyek PSEL akan disampaikan langsung oleh CEO BPI Danantara, Roesan Roeslani.
“Pemenang adalah yang sesuai dengan Perpres itu, memiliki kemampuan teknikal yang sangat baik, kemampuan finansial dan ekonomi yang sangat baik, dan juga risiko yang bisa termanage dengan baik,” ujar Fadli, Kamis (26/2/2026).